RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Mengintip pengelolaan “Sang Adik” Krakatau: Pulau Surtsey, Islandia, Barat Laut Eropa

Tinggalkan komentar

Keterangan gambar: Letak geografis Islandia dan Pulau Surtsey. (A) Negara Islandia berada di Barat Laut Eropa, (B) Pulau Surtsey terletak di Selatan Islandia. Pulau Surtsey terbentang dari permukaan laut hingga ketinggian 154 m, dan dipercaya terus berkembang. Photographs copyright by Wikipedia.

Keterangan gambar: Letak geografis Islandia dan Pulau Surtsey. (A) Negara Islandia berada di Barat Laut Eropa, (B) Pulau Surtsey terletak di Selatan Islandia. Pulau Surtsey terbentang dari permukaan laut hingga ketinggian 154 m, dan dipercaya terus berkembang. Photographs copyright by Wikipedia.

Pulau Anak Krakatau telah lama dikenal dengan keunikannya sebagai pulau yang muncul ke permukaan laut akibat aktivitas vulkanik Gunung Krakatau. Pada awal kemunculannya, Pulau ini diyakini tidak memiliki organisme hidup jenis apapun di permukaannya. Menariknya, hingga kini pulau ini telah menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna. Selain itu, Pulau ini juga menjadi pangkalan utama bagi para penjaga kawasan dan menjadi daya tarik utama para pengunjung.

Apabila kita berpikir bahwa Krakatau merupakan satu-satunya pulau dengan keunikan tersebut, mungkin kita harus kecewa karena ternyata Krakatau punya ‘saudara kembar’. Ia adalah Pulau Surtsey, di Islandia, salah satu negara di barat daya Eropa. Serupa Krakatau, Surtsey merupakan pulau yang muncul ke permukaan laut akibat aktivitas gunung api. Dibandingkan Krakatau, Surtsey berusia lebih muda, gunung ini lahir dari serangkaian erupsi pada tahun 1963 hingga 1967. Kenyataan bahwa Anak Krakatau memiliki “adik” tentunya tidak harus mengecilkan kebanggaan kita terhadap Krakatau, namun justru harus memotivasi kita untuk berpikir keras bagaimana memperlakukan Krakatau lebih dari sekedar mengelola “ala kadarnya”. Artikel singkat ini akan menelisik bagaimana Pulau Surtsey di Islandia dikelola serta membandingkannya secara proporsional dengan pengelolaan Krakatau.

Pulau Surtsey terletak 32 km di selatan Pulau Heimaey, Islandia, pulau berpenduduk terdekat dari kawasan. Sejak kelahirannya, gunung ini dilindungi untuk membatasi dengan ketat aktivitas manusia. Seperti halnya Krakatau, Surtsey merupakan laboratorium alami bagi proses kolonisasi area oleh flora dan fauna. Hingga saat ini, terdapat 60 jenis tumbuhan tingkat tinggi (vascular plant), 27 jenis lumut daun (bryophyta), 71 jenis lumut kerak (lichens), dan 24 jenis jamur (fungi) di Pulau Surtsey. Selain itu, terdapat juga 89 jenis burung serta 335 jenis invertebrata di Pulau ini.

Pulau Surtsey dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kebijakan dan Urusan Luar Negeri Islandia. Pada tingkat lokal, kawasan ini dikelola oleh Nature Reserve Officer. Pengawasan terhadap pengelolaan kawasan dilakukan oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Makanan melalui badan penasehat yang beranggotakan perwakilan dari enam pihak: Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Makanan, Perhimpunan Peneliti Surtsey, Institut Sejarah Alam Islandia, Institut Penelitian Kelautan, dan Pemerintah Lokal Vestmannaeyjar.

Pengaturan kunjungan merupakan isu utama dalam pengelolaan kawasan. Kunjungan ke Surtsey terbatas untuk penelitian dan pendokumentasian kawasan. Hal ini dilakukan guna meminimalisasi dampak manusia pada ekosistem pulau, menjaga proses kolonisasi flora-fauna, suksesi biotik, dan pembentukan formasi geologi berlangsung se-alami mungkin. Dengan demikian, tujuan utama perlindungan kawasan ini, yaitu sebagai laboratorium alami, dapat tercapai.

Setiap kunjungan akan didampingi oleh petugas untuk memastikan setiap pengunjung tidak membawa satu biji pun tanaman asing, dan juga memastikan pengunjung tidak meninggalkan apapun di pulau. Merupakan hal yang terlarang untuk mendarat di pantai, menyelam di sekitar pulau, memasukkan organisme hidup atau pun bagian-bagiannya, memasukkan mineral dan tanah ataupun meningggalkan kotoran di Pulau Surtsey. Diperlukan izin tertulis dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup untuk memasuki kawasan ini. Dari segi keamanan perjalanan laut, setiap pengunjung harus mendapat izin (clearence) dari otoritas yang berwenang berkaitan dengan kondisi cuaca kawasan. Tak mengherankan apabila sampai saat ini tercatat hanya ratusan orang yang pernah mengunjungi pulau ini.

Keterangan foto: View Puncak Pulau Surtsey dari Pantai. Photograph copyright© Sigurdur Thrainsson ( whc.unesco.org/en/documents/131199)

Keterangan foto: View Puncak Pulau Surtsey dari Pantai. Photograph copyright© Sigurdur Thrainsson ( whc.unesco.org/en/documents/131199)

Komitmen pengelola untuk menyuplai dunia dengan data dan ilmu pengetahuan mengenai proses perkembangan ekosistem kepulauan diwujudkan dengan melakukan kerja sama erat dengan komunitas peneliti. Telah terbentuk Perhimpunan Peneliti Surtsey (The Surtsey Research Society) selama 50 tahun. Dalam perjalanan setengah abadnya, para peneliti telah menerbitkan jurnal ilmiah mengenai Surtsey sebanyak hampir 500 judul.  Untuk mendukung kegiatan penelitian, terdapat fasilitas pondok peneliti dan landasan helikopter di dalam kawasan. Penelitian dilakukan dengan dukungan pendanaan dari kas pemerintah pusat dan sumbangan lainnya. Penulis sarankan untuk mengunjungi website untuk mengetahui lebih detil mengenai perhimpunan peneliti ini: http://www.surtsey.is/index_eng.htm

Kawasan ini bukan berarti tanpa ancaman. Ancaman kelestarian kawasan datang dari kegiatan pengambilan ikan dan biota laut lainnya di perairan sekitar kawasan. Namun, proses pengambilan ikan pada umumnya menggunakan alat tangkap jaring (gill net) sehingga dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan bagi perubahan ekosistem perairan sekitar kawasan.

Penulis akan menutup artikel ini dengan beberapa point refleksi, kontemplasi bagi pengelolaan Cagar Alam Krakatau. Sama halnya dengan Surtsey, alasan utama perlindungan Kepulauan Krakatau adalah untuk menjaga kealamian proses-proses ekologis yang berlangsung. Pembatasan ketat kegiatan manusia telah, sedang dan akan terus dilangsungkan di Surtsey, bagaimana dengan kita di Krakatau?

Surtsey juga memiliki daya pikat kuat bagi wisatawan, begitu juga Krakatau. Pemerintah lokal Vestmannaeyjar memiliki ketertarikan untuk menjadikan kawasan ini objek daya tarik wisata. Namun, berupaya untuk konsisten dengan tujuan perlindungan kawasan untuk menjaga kealamian proses-proses ekologis, otoritas pengelola Surtsey tidak mengijinkan pendaratan wisata di Surtsey dan hanya mengijinkan tur mengelilingi pulau menggunakan perahu (boat tours)  dan dari udara (aerial sightseeing). Tur dengan perahu dibanderol dengan harga IRK 16,500 (Krona Islandia) atau sekitar Rp. 1.872.179 (Kurs per 12 Oktober 2016) per orang per trip (lihat http://visitwestmanislands.com/). Bagaimana dengan krakatau?

Mengingat tujuan utama perlindungan kawasan adalah menjadikan Surtsey sebagai laboratorium ekologi alami, otoritas pengelola bekerja sama sangat erat dengan komunitas peneliti untuk melakukan pemantauan berkala tiap tahun. Dan Krakatau? The Krakatau Research Society?

Artikel ini bersumber utama dari website The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dengan alamat http://whc.unesco.org/en/list/1267/. Penulis juga merekomendasikan pembaca untuk menyaksikan video singkat mengenai Surtsey di tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=a0ZnlfDkErM.

 

*** M. Hilman T Sukma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s