RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Dibalik Nama Besar – Krakatau Menyimpan Misteri

Tinggalkan komentar

IMG_3570

Gunung Anak Krakatau

Tahun 1883 mengingatkan kembali tragedi letusan gunung krakatau yang menggemparkan dunia. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Hingga 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, sejauh 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya.

Saat inipun gunung krakatau sedang berproses untuk tumbuh dan menjelma menjadi anak krakatau. Setelah melewati masa istirahat kedua, mulai 1884 sampai Desember 1927, pada 29 Desember 1927 terjadi letusan bawah laut. Letusan tersebut menyemburkan air laut di pusat Kompleks Gunung Api Krakatau, menyerupai air mancur yang terjadi terus menerus sampai 15 Januari 1929 (Stehn, 1929 dalam Sutawidjaja, 2006). Stehn adalah seorang ahli gunung api yang memperhatikan bahwa pada 20 Januari 1929 muncul di permukaan tumpukan material di samping tiang asap yang membentuk satu pulau kecil, yang kemudian dikenal sebagai kelahiran Gunung Api Anak Krakatau.

Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau yang terletak di pusat Kawasan Krakatau, tumbuh dari kedalaman laut 180 meter, dan muncul di permukaan laut pada tahun 1929. Sejak lahirnya, Gunung Api Anak Krakatau tumbuh cukup cepat akibat seringnya terjadi letusan hampir setiap tahun. Masa istirahat kegiatan letusannya berkisar antara 1 sampai 8 tahun dan rata-rata terjadi letusan 4 tahun sekali. Secara umum pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau ini rata-rata 4 meter per tahun (Sutawidjaja,1997 dalam Sutawidjaja, 2006).

Secara geologis Gunung Anak Krakatau sekarang merupakan suatu bentuk aktivitas tektonik dan vulkanik yang dinamis yaitu adanya pergerakan lempengan litosfera antara Lempengan Benua dan Lempengan Samudera Hindia yang terus bergerak ke arah pulau Jawa (dengan kecepatan 7 – 10 cm/tahun) dan aktivitas magma chamber.  Aktivitas Krakatau ini mempengarui iklim disekitarnya yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi dan perkembangan biota (fauna dan flora) di kawasan Krakatau tersebut. Kondisi yang dinamis tersebut membuat ekosistem di kawasan Krakatau menjadi unik.  Kekayaan plasma nutfah flora dan fauna baik di daratan ataupun perairan yang ditunjang dengan nilai historis dan legendarisnya serta posisi geografisnya, membuat Krakatau menjadi laboratorium alam untuk mempelajari berbagai fenomena alam yang dimilikinya dengan memonitoring gejala alam dan suksesi alami berbagai ekosistemnya.

Peta Kawasan CA & CAL Krakatau A3

Peta CA dan CAL Kepulauan Krakatau

Krakatau telah ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1919 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 83 Stbl.392 Tanggal 11 Juli 1919 jo Nomor 7 Stbl 392 Tanggal 5 Januari 1925.  Berdasarkan SK tersebut Cagar Alam Krakatau mempunyai luas 2.405,10 Ha yang meliputi pulau Krakatau Besar (Rakata), Pulau Krakatau Kecil (Panjang) dan Pulau Sertung.

Tahun 1990, secara khusus Cagar Alam Kepulauan Krakatau, yang selama ini berdasarkan ketentuan Pemerintahan Belanda, direvisi dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan RI sebagai Cagar Alam (CA) dan Cagar Alam Laut (CAL)  Kepulauan Krakatau  dengan luas 13.735 hektar (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 85/Kpts/II/1990 tanggal 28 Pebruari 1990).

Keunikan krakatau menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk mengunjungi kawasan krakatau. Namun secara normatif tidaklah diperbolehkan untuk kegiatan wisata. Sesuai dengan status kawasannya, krakatau masuk kedalam cagar alam yang pengertiannya adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yag perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (1) UU No. 5 th 1990 tentang KSDAH&E bahwa di dalam kawasan cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya dan pada Pasal 19 (1) terdapat ketentuan bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

Selain tidak diperbolehkan secara aturan hukum, secara keamanan dan keselamatan krakatau bukanlah tempat yang aman untuk melakukan kunjungan wisata. Secara alami, kawasan ini masih tergolong kawasan gunung berapi yang masih aktif. Aktivitas tektonik dan vulkanik Gunung Anak Krakatau sering terjadi dan tidak dapat diprediksi sehingga bisa saja meletus sewaktu-waktu yang sangat membahayakan keselamatan pengunjung.

“Sejarah telah mencatat perjalanan krakatau hingga saat ini masih berdiri tegak dengan misteri yang tersimpan. Akankah letusan tahun 1883 terulang kembali, dan bisa saja meletus disaat yang tak terduga. Mungkin saat ini anak krakatau masih beristirahat, oleh karena itu jangan sampai terganggu dan terbangun dari tidurnya. Tak terbayang jika kemarahannya diungkapkan dengan mengeluarkan semua isi perutnya berupa letusan gunung berapi seperti halnya tragedi 1883”

 Referensi:

Sutawidjaja, I.S., 1997. The activities of Anak Krakatau volcano during the years of 1992-1996. The Disaster Prevention Research Institute Annuals, No. 40IDNDRS, I, Kyoto University, Japan.

Stehn, CH. E., 1929. The geology and volcanism of the Krakatau Group. 4 th Pan-Pacifi c Science Congress Java,1929. Part I. 1-55.

Sutawidjaja, I.S., 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau setelah letusan katastrofis 1883. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 143-153.

 

*** A.Basyir Firdaus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s