RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Intervensi Dalam Pembinaan Organisasi

Tinggalkan komentar

banner-organization-development-and-change-managementSetiap organisasi tentunya ingin mencapai kesuksesan dalam pencapaian tujuannya.  Namun dalam menjalankan tugasnya, seringkali sebuah organisasi dihadapkan dengan begitu banyak permasalahan yang menghalangi pencapaian tujuan organisasi.  Permasalahan-permasalahan tersebut terkadang begitu kompleks dan sulit untuk diatasi.  Untuk itu, dalam pembinaan/pengembangan organisasi (organizational development), diperlukan upaya konkret untuk mengatasi  masalah organisasi yang dimulai dari men-diagnosis “penyakit” organisasi sampai dengan melakukan intervensi .  Dalam tulisan ini, penulis berupaya melakukan analisis singkat mengenai permasalahan organisasi khususnya organisasi pemerintah, kemudian mencoba memberikan solusi intervensi yang dirasakan tepat untuk mengatasinya.

Dalam tulisan ini penulis mendiagnosa permasalahan organisasi yang berkaitan dengan sumber daya manusia.  Penulis beranggapan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan sumber daya manusia merupakan permasalahan yang sangat penting mengingat sumber daya manusia merupakan motor dalam operasionalisasi seluruh kegiatan organisasi.  Dari berbagai permasalahan yang terkait sumber daya manusia, penulis hanya mengangkat 2 (dua) permasalah yang umumnya dialami organisasi pemerintah, yaitu :

1. Rendahnya tingkat kedisiplinan pegawai.

Hal ini ditunjukan dengan banyaknya pegawai yang tidak hadir ataupun hadir namun tidak tepat waktu.  Hal ini menyebabkan banyak tugas dan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan tepat waktu, terutama menyangkut fungsi-fungsi pelayanan publik.

2.  Banyaknya pegawai yang bekerja tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.

Di berbagai organisasi pemerintah, masih banyak pegawai yang mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.  Hal ini menciptakan sebuah ketidakpastian pekerjaan di lingkup organisasi.

Dari hasi diagnosis permasalahan tersebut, maka penulis mengajukan beberapa jenis intervensi yang dapat dilakukan.  Intervensi tersebut adalah :

1. Masalah kedisiplinan pegawai.

Pemecahan masalah kedisiplinan pegawai dapat dipecahkan dengan intervensi berbasis tujuan perubahan, yaitu pada isu/permasalahan organisasi (organizational issue).  Isu kedisiplinan pegawai termasuk dalam kategori isu sumber daya manusia (Human resources Issue), sehingga jenis intervensi yang dilakukan adalah dengan human resources intervention.  Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam intervensi ini antara lain perencanaan karir, system rewards, penetapan tujuan organisasi, dan pengukuran/penilaian kinerja.  Adapun bentuk-bentuk human resources intervention yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan :

a.  Perumusan Tujuan Organisasi

Harus dilakukan perumusan secara jelas tentang tujuan organisasi.  Dalam kegiatan ini, dilakukan pertemuan rutin antara pimpinan organisasi dan pimpinan-pimpinan bidang-bidang tertentu dalam organisasi untuk merumuskan tujuan organisasi secara jelas.  Selanjutnya tujuan organisasi yang telah jelas tersebut diumumkan dan diberitahukan kepada seluruh pegawai, sehingga seluruh pegawai mengetahui tujuan organisasi secara jelas.

b.  Pengukuran Kinerja

Dilakukan pengukuran kinerja terhadap semua pegawai yang meliputi berbagai unsur termasuk unsur kedisiplinan yang menyangkut kehadiran, kecepatan dan ketepatan menjalankan tugas, output kegiatan/pekerjaan dan lain sebagainya.  Pengukuran kinerja ini akan menjadi dasar dalam reward dan punishment yang akan dikenakan kepada pegawai. Pengukuran kinerja juga menjadi suatu elemen penghubung antara tujuan organisasi dan system reward and punishment

c.  Sistem Rewards and Punishment

Setelah dilakukan penilaian kinerja yang meliputi berbagai aspek termasuk kedisiplinan maka diterapkan System Rewards and Punishment.  Bagi yang memiliki kinerja baik dan memuaskan maka diberikan rewards, sebaiknya bagi yang kinerjanya buruk maka dikenakan punishment yang setimpal pula.  Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan tingkat kepuasan karyawan.

2.  Masalah ketidakpastian pekerjaan.

Pemecahan masalah ketidakpastian pekerjaan di dalam sebuah organisasi juga dapat dipecahkan dengan intervensi berbasis tujuan perubahan, yaitu pada isu/ permasalahan organisasi (organizational issue).  Isu ketidakpastian pekerjaan  termasuk dalam kategori isu teknologi dan struktur atau technostruktural issue, dan intervensinya disebut technostruktural intervention.  Disebut technostruktural intervention karena terkait dengan design organisasi, karyawan/pegawai, dan design kerja. Pendekatan intervensi ini adalah pada keterlibatan karyawan, metode-metode design organisasi, kelompok, dan jenis pekerjaan. Adapun bentuk-bentuk technostruktural intervention yang dapat dilakukan antara lain adalah :

a.  Design struktur organisasi.

Intervensi dilakukan dengan mendesain kembali struktur organisasi dikaitkan dengan tugas-tugas tiap elemen organisasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari overlap dalam pelaksanaan pekerjaan, dan membuat seluruh pegawai dapat berfungsi sesuai dengan job descriptionnya masing-masing. Struktur organisasi yang efektif dapat menentukan efektifitas pencapaian tujuan organisasi yang merupakan tujuan dari adanya pengembangan organisasi (organizational development).

b.  Perampingan organisasi.

Perampingan organisasi adalah intervensi yang berkaitan dengan pengurangan elemen-elemen/struktur yang dianggap tidak diperlukan/pemborosan. Banyaknya pegawai yang tidak bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya dapat juga disebabkan terlalu “gemuk’ nya sebuah struktur organisasi, sehingga banyak pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan oleh sedikit orang namun dikerjakan oleh banyak orang yang malah menimbulkan ketidakefektifan dalam pelaksanaan pekerjaan.  Perampingan termasuk intervensi yang cukup beresiko akan adanya resistensi dari anggota organisasi atau pegawai, namun harus dilakukan bila sangat diperlukan.  Untuk organisasi pemerintah,  perampingan dapat dilakukan dengan memutasi pegawai yang dianggap tidak efektif.   Sebagai catatan bahwa kegiatan perampingan organisasi harus dilakukan dengan pertimbangan strategi organisasi.

c.  Reengineering

Reengineering adalah salah satu bentuk intervensi yang radikal dalam pengembangan organisasi yaitu dengan merubah bentuk organisasi.  Langkah ini adalah langkah terakhir apabila dianggap permasalahan organisasi sudah tidak dapat dipecahkan dengan pendekatan-pendekatan lain.

Demikianlah analisa singkat penulis mengenai permasalahan dan bentuk intervensi yang dapat dilakukan dalam pembinaan/pengembangan organisasi (organizational development).  Bentuk-bentuk intervensi yang penulis ajukan merupakan bentuk-bentuk intervensi yang merujuk pada pendapat Thomas G Cummings dan Christopher G. Worley dalam buku karangan mereka yang berjudul “Organization Development and Change”.

 

***Indra Dirhamsyah, S.P., M.Si.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s