RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Kesiapsiagaan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Memasuki Tahun 2014 di Lampung

Tinggalkan komentar

DSCN0895Segenap jajaran Kepolisian Daerah Lampung, Balai KSDA Lampung, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, dan Dinas Perkebunan Provinsi Lampung berkumpul di ruang rapat guna melakukan telekonferensi dengan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 14 Maret 2014 pukul 14.00 WIB bertempat di Mapolda Lampung. Telekonferensi dilakukan menyusul dampak asap semakin meluas akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau. Kepala BNPB Syamsul Maarif melaporkan kejadian kebakaran di Riau telah menurunkan kualitas udara dan jarak pandang hanya tinggal 200 meter. Peningkatan operasi tanggap darurat merupakan instruksi langsung Presiden SBY mengingat situasi tersebut telah menjadi bencana alam. Kejadian ini merupakan pelajaran berharga bagi daerah lain di Indonesia, termasuk Provinsi Lampung untuk bersiap siaga dalam pengendalian kebakaran hutan.

 Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung boleh berbangga untuk bidang pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Target penurunan hotspot tahun 2013, tercapai 220 hotspot, dan ini jauh dibawah target Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Jenderal PHKA Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebesar 524.

 Pada tahun 2014 ini, batas toleransi hotspot untuk Provinsi Lampung adalah 421 hotspot. Hotspot yang terpantau s/d 16 Maret 2014 berjumlah 8 hotspot.   Kondisi Lampung hingga saat ini berada pada kondisi aman dari kebakaran hutan dan lahan.

 Sepanjang tahun 2013, hotspot yang terjadi di kawasan hutan sebesar 24% (52 hotspot) dan pada lahan mencapai 76% (167 hotspot). Sumber hotspot terbesar di kawasan hutan adalah perambahan untuk perluasan areal pertanian yang ditanami singkong, pisang, kopi, coklat, karet, dan tanaman hortikultura lainnya. Hotspot tertinggi terjadi pada bulan September 25% (55 hotspot), Agustus 14% (30 hotspot), dan Oktober 13% (28 hotspot).

 Berkaca dari kondisi selama tahun 2013 dan bencana asap di Riau pada awal tahun ini maka BKSDA Lampung meningkatkan kesiapsiagaan untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui langkah-langkah berikut ini:

  1. Posko siaga kebakaran hutan di BKSDA Lampung aktif memantau hotspot melalui satelit NOOA 18;
  2. Bersiaga dan mengintesifkan koordinasi ke instansi terkait tentang sebaran hotspot di berbagai daerah;
  3. Meningkatkan sistem peringatan dini ke seluruh kabupaten;
  4. Patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan di daerah rawan kebakaran hutan atau yang terpantau di satelit;
  5. Groundcheck untuk mencari sumber hotspot yang terpantau di lokasi;
  6. Sosialisasi pencegahan kebakaran hutan di desa-desa sekitar kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan;
  7. Peningkatan koordinasi dengan instansi terkait melalui Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan;
  8. Peningkatan sumberdaya manusia melalui Penyegaran Pelatihan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan se-Provinsi Lampung;
  9. Pemberdayaan masyarakat sekitar melalui Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di sekitar kawasan hutan;
  10. Peningkatan sumberdaya manusia melalui Pembinaan Masyarakat Peduli Api yang sudah terbentuk sebanyak 12 kelompok yang tersebar di 10 kabupaten;
  11. Penegakan hukum bagi pelaku pembakaran perlu ditingkatkan agar timbul efek jera.

 Mengingat hotspot pada lahan pertanian dan perkebunan jauh lebih banyak dibanding di hutan maka diharapkan Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura dapat mengambil peran misalnya melalui penyusunan peraturan daerah mengenai pengendalian kebakaran lahan, penyusunan program pengendalian kebakaran lahan pertanian, peningkatan kinerja PPNS dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran di bidang kebakaran lahan pertanian, peningkatan kualitas SDM dalam pengendalian kebakaran lahan pertanian, dan memfasilitasi penerapan teknologi pertanian yang dapat meningkatkan upaya pengendalian kebakaran lahan dan pertanian, sebagaimana Instruksi Presiden No. 16 tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

 Pada akhir telekonferensi, Presiden SBY mempertanyakan kondisi yang berulang terjadi setiap tahun, kepada masyarakat Riau. Presiden menghimbau masyarakat Riau untuk segera menghentikan pembakaran lahan dalam penyiapan lahan dan mulai melakukan pembersihan lahan menggunakan traktor atau alat semi mekanis lainnya. Karena demikian besarnya dana, tenaga, waktu, dan pemikiran yang dikerahkan, akan tetapi berulangkali terjadi dan membahayakan negara maka perlu ditelaah lebih lanjut, apakah ini terjadi karena pembakaran atau kebakaran.

 Balai KSDA Lampung telah menggalakkan metode penyiapan lahan tanpa bakar dengan mensosialisasikan pembuatan pupuk kompos dan pembuatan briket arang. Setiap kelompok MPA binaan BKSDA Lampung dilatih membuat pupuk kompos dan briket arang dengan memberikan EM 4 (Bokashi) sebagai aktivator kompos dan mesin cetak briket. Sebagaimana diketahui bahwa dibutuhkan 3 unsur penyebab kebakaran yaitu udara, bahan (daun dan ranting) dan api. Oleh sebab itu pemutusan rantai pada bahan kebakaran yaitu daun dan ranting yang dimanfaatkan menjadi kompos dan briket arang, diharapkan mampu mencegah terjadinya kebakaran.

*** Duma Monika Gultom, S.Hut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s