RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Budidaya Gaharu Memberi Harapan Baru Untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Sektor Kehutanan

Tinggalkan komentar

Gaharu bukanlah nama tumbuhan, tetapi merupakan bagian hasil dari jenis pohon. Kata gaharu konon berasal dari beberapa istilah yakni dalam bahasa Melayu bermakna harum dan aguru dalam bahasa Sansekerta berarti kayu berat (tenggelam dalam air). Gaharu ialah salah satu produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang umumnya dihasilkan oleh jenis pohon dari suku Thymelaceae. Gaharu bermutu sangat baik dengan nilai ekonomi tinggi karena mengandung resin yang harum. Baik masyarakat umum maupun pelaku bisnis telah terbiasa menyebutnya sebagai pohon gaharu.

Dilatarbelakangi tingginya nilai komersial gaharu dan besarnya permintaan pasar lokal maupun internasional, pelaku bisnis tergiur untuk memenuhi permintaan pasar dengan mengumpulkan gaharu sebanyak-banyaknya. Akibatnya eksploitasi gaharu di alam semakin tidak terkendali. Untuk mengendalikannya, sejak 1994 CITES menetapkan tumbuhan penghasil gaharu jenis Aquilaria malaccensis dan jenis lainnya kedalam APPENDIX II, yaitu jenis tumbuhan yang terancam punah. Masyarakat sebagai pelaku usaha diarahkan untuk membudidayakannya di kebun ataupun pekarangan untuk menghindari kepunahannya di alam.

 Secercah harapan bagi peningkatan ekonomi dari sektor kehutanan saat ini mulai tumbuh di tengah masyarakat Provinsi Lampung. Untuk mendukungnya, Balai KSDA Lampung sejak 2013 melakukan pendataan tumbuhan gaharu yang dibudidayakan di lahan masyarakat pada beberapa lokasi di Provinsi Lampung. Tindaklanjutnya adalah diberikan ijin penangkaran atau budidaya tumbuhan gaharu kepada masyarakat. Hal ini untuk memberi kepastian hukum bahwa hasil gaharu yang diperdagangkan masyarakat betul-betul berasal dari hasil budidaya dan bukan dari alam, dan akan memudahkan saat pengurusan ijin untuk keperluan jual beli baik di dalam maupun luar negeri.

 Usaha budidaya tumbuhan gaharu meliputi beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Penyiapan dan pengolahan lahan

Tahap ini bertujuan untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah agar mempermudah penyerapan hara oleh akar. Pembudidayaan tumbuhan penghasil gaharu membutuhkan modal besar (capital intensive), artinya dengan luasan sama, modal dan biaya yang dibutuhkan lebih besar tetapi profit juga jauh lebih besar dibanding budidaya tumbuhan lain.

 2. Penanaman bibit

Bibit yang sudah disiapkan melalui perbanyakan secara generatif, yaitu melalui biji ataupun melalui cabutan bibit dari indukan pohon yang ditanam di polybag, diangkut ke lokasi penanaman. Jarak tanam gaharu bermacam-macam antara lain 4 x 5 m, 5 x 5 m, 3 x 3 m, 3 x 4 m, 3 x 5 m disesuaikan kondisi lahan. Lubang tanam berukuran 10-20 cm atau sesuai ukuran polybag kemudian bekas galian lapisan atas ditimbunkan kedalamnya karena mengandung humus.

 3. Pemupukan

Pemupukan dianjurkan dengan pupuk organik seperti kompos dan pupuk kandang dan waktu pemupukan sebaiknya pada permulaan musim hujan sehingga hanya dua atau tiga kali setahun, yaitu ditabur di sekeliling pohon kemudian ditutupi tanah.

 4. Pemeliharaan tanaman

Pemeliharaan meliputi pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit, serta pemangkasan.

 5. Penyuntikan pohon gaharu untuk memasukan jamur pembentuk gubal

Penyuntikan pada tumbuhan penghasil gaharu adalah salah satu cara mempercepat proses pembentukan gaharu dengan menginfeksikan jamur (umumnya jamur Fusarium sp) pada pohon dengan cara dibor. Jamur ini berfungsi merangsang tanaman agar merespon dengan mengeluarkan penangkal berupa resin beraroma yang diproduksi oleh alkaloid sel. Resin berwarna cokelat itu melindungi sel-sel tanaman dari serangan mikroba supaya luka/kerusakan akibat serangan mikroba tidak meluas ke jaringan lain. Namun adanya resin pada jaringan hidup yang terus menumpuk justru menutupi dan menghambat fungsi jaringan tanaman untuk pengangkutan unsur hara ke bagian tanaman lainnya sehingga berujung pada terbentuknya gaharu dan tumbuhan akan mati karena kekurangan hara. Pohon yang akan dibor harus bagus atau pertumbuhannya baik dengan umur >6 tahun, diameter batang >10 cm, keadaan sekitarnya cukup teduh agar kelembabannya cukup.

6. Panen dan pasca panen

Secara fisiologis, terbentuknya gubal gaharu ditandai dengan kondisi berupa, daun pada tajuk menguning yang mirip dengan tanda adanya penyakit, kemudian rontok, ranting kehilangan daun dan mulai mengering, secara fisik proses pertumbuhan terhenti, kulit batang mengering dan kehilangan kadar air. Ranting dan cabang mulai meranggas dan mudah patah, batang berwarna putih berserat coklat kehitaman dengan teras kayu merah kecoklatan atau hitam. Bila dikupas dan dibakar akan mengeluarkan aroma khas. Pemanenan dilakukan dengan dua cara yaitu panen berkala dan panen total. Panen berkala dengan cara pengerukan atau pengupasan bagian kayu yang sudah terbentuk gubal. Sedangkan panen total dilakukan pada pohon yang sudah mati seluruhnya untuk diambil bagian-bagiannya yaitu batang, cabang, ranting dan akar. Pohon ditebang dan akarnya digali, batang dipotong dan dikuliti, dipisahkan gubal gaharu dengan kemedangan. Pasca panen, gaharu dikumpulkan oleh petani budidaya, pengusaha, penampung produk, dan eksportir. Kemudian dilakukan seleksi berdasarkan kelas mutu gaharu yaitu gubal, kemedangan, dan abu/bubuk.

*** Saturnino Xavier, S.P.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s