RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Menyusuri Kepakan Si Penjaga Hutan

Tinggalkan komentar

foto dian 3Pagi itu kami harus mengambil jalur memutar untuk mengunjungi ibukota kabupaten, Gunung Sugih, terlebih dulu, sebelum menapaki hutan lindung yang tersisa di Kabupaten Lampung Tengah.  Tujuan kami kali ini adalah untuk mengetahui keberadaan burung rangkong di Hutan Lindung Register 22 Way Waya.  Namun, sebelum memasuki kawasan, kami berkoordinasi dengan jajaran Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lampung Tengah dan KPHL Register 22 Way Waya di Gunung Sugih. Siang harinya kami meluncur ke Kecamatan Sendang Agung dan berencana menjadikannya basecamp.  Jarak dari Gunung Sugih ke Sendang Agung yang tidak bisa dibilang dekat semakin terasa jauh karena kondisi jalan yang tidak mulus.  Sore hari kami baru tiba dan pengamatan pun dimulai.

Kawasan Hutan Register 22 Way Waya, seluas 5.118,  tergolong sebagai ekosistem hutan yang sudah terganggu.  Pada tahun 2008, masyarakat yang tergabung dalam gapoktan mengajukan izin Hutan Kemasyarakatan (HKm). Pada tanggal 11 November 2013, Menteri Kehutanan menandatangani Penetapan Areal Kerja HKm seluas 4.432,535 Ha dan hanya menyisakan 685,465 Ha untuk dibiarkan tetap alami.

Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong. Dahulu, diyakini 9 jenis rangkong ada di kawasan hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan bawah di Provinsi Lampung. Dalam survey ini, kami membekali diri dengan rekaman suara, gambar, maupun video kesembilan jenis rangkong.  Identifikasi jenis menggunakan peralatan seperti binokuler, monokuler digital Bushnell, dan laser range finder, dan kamera digital SLR Canon 7D. Pengumpulan data populasi burung rangkong menggunakan metode transek garis yang dilakukan pada pagi hari sejak sebelum matahari terbit dan sore hari hingga menjelang matahari terbenam.

Di kawasan hutan ini, kami mendapati lima jenis burung rangkong yang teramati, baik melalui suara maupun secara visual, yakni Buceros bicornis, Buceros rhinoceros, dan Anthracoceros malayanus, Aceros corrugatus, dan Aceros undulatus. Pada saat terbang maupun bertengger sering terlihat bersama, yakni sepasang jantan dan betina, tampaknya menjadi salah satu ciri khas burung rangkong. Burung rangkong biasa terbang tinggi di antara tajuk bahkan di atas tajuk pepohonan, dan kadang hinggap pada pohon berbuah seperti beringin (Ficus spp.). Burung rangkong menyukai buah-buahan yang merupakan pakan utamanya. Beragamnya jenis pakan tentu saja akan menarik perhatian bagi rangkong untuk berada pada suatu kawasan tertentu (Pattiwael, 2012).

Berdasarkan informasi masyarakat dan studi literatur, buah pohon bulu (Pellacalyx saccardianus) disukai burung rangkong, selain gondang (Ficus variegata) dan jambu alas (Eugenia sp.).  Di kawasan hutan ini ditemukan ketiga jenis tersebut. Namun terbuka kemungkinan, rangkong juga mengkonsumsi buah-buahan dari jenis lainnya. Berdasarkan analisis vegetasi, diketahui Indeks Nilai Penting pohon bulu sebesar 12,08%, gondang sebesar 17,23%, dan jambu alas 15,10%.  Jenis jambu alas memiliki permudaan yang baik karena ditemukan pada tingkat pertumbuhan pancang, tiang, dan pohon.

Karakteristik pohon yang diminati burung rangkong untuk bersarang adalah pohon berdiameter besar. Sebagaimana dijelaskan oleh Hadiprakarsa, dkk dalam Status dan Ancaman Burung Rangkong di Propinsi Lampung, bahwa pohon besar (diameter setinggi dada (dbh) > 65 cm) diperkirakan memiliki potensi sebagai pohon sarang. Selain itu, karakteristik pohon sarang adalah memiliki lubang alami untuk dijadikan sarang.  Rangkong juga terkadang menempati bekas sarang burung pelatuk.  Pohon yang tinggi dan memiliki beberapa percabangan juga diminati untuk menjadi tempat bertengger atau sekedar beristirahat.

Pohon dengan diameter batang besar yang jarang ditemukan tentunya menjadi kekhawatiran akan semakin langkanya pohon potensial untuk menjadi pohon sarang. Lebih lanjut, hal ini dikhawatirkan akan mempengaruhi populasinya. Pohon bulu merupakan satu-satunya pohon dengan dbh > 65 cm yang ditemukan di petak pengamatan.  Pohon lain dengan dbh cukup besar yakni 60 cm adalah sonokeling, gondang, dan jabon alas.  Pohon iwil-iwil memiliki tinggi bebas cabang 40 m dan merupakan pohon tertinggi yang dijumpai di petak contoh.

Masyarakat nampak familiar dengan keberadaan rangkong yang pada saat-saat tertentu kerap melintas di lingkungan mereka.  Ketika musim buah, antara bulan Desember dan Januari, burung rangkong sering nampak turun ke pedesaan dan memakan buah-buahan di sana.  Sesuai dengan sifat burung rangkong yang suka berkelana ke kebun-kebun. Penyuluhan dan pendekatan pada masyarakat perlu dilakukan agar mereka dapat turut berperan serta menjaga dan melindungi populasi burung rangkong.  Mengingat peran rangkong dalam penyebaran biji sangat krusial bagi kelangsungan ekosistem hutan. Sehingga melindungi populasi rangkong sama artinya dengan melindungi hutan.

***Dat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s