RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Survey Potensi Cagar Alam Laut Tambling

Tinggalkan komentar

IMG_2556Cagar Alam Laut Bukit Barisan Selatan, yang juga disebut Cagar Alam Laut Tambling berada di ujung barat daya daratan Lampung yang menjadi satu kesatuan ekosistem dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kawasan yang ditunjuk pada 15 Februari 1990 ini menyimpan potensi keanekaragaman hayati laut yang sangat besar, mulai dari terumbu karang, ikan, penyu hingga biota laut lainnya. Kawasan dengan luas 14.000 Ha yang terbentang dari tanjung belimbing hingga tanjung cina, terancam akan mengalami kepunahan potensi jika tidak ada aksi konservasi dan penyadaran pada para perusak alam.

Melalui kegiatan survey potensi pada 21-26 Agustus 2013, Balai KSDA Lampung mencoba melihat lebih dekat potensi keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Tim survey berjumlah 12 orang yang terdiri dari Tim Penyelam Balai KSDA Lampung, Club Selam Anemon FMIPA Universitas Lampung, Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan. Survey bertujuan untuk untuk mengetahui kondisi keragaman terumbu karang, ikan karang, dan biota laut lainnya.

Sebagai pendahuluan, tim survey melakukan penggalian potensi dengan metode “manta tow”. Metode manta tow adalah pengamatan secara visual pada area yang luas dengan waktu yang singkat untuk melihat keadaan di dasar perairan sehingga memudahkan penentuan lokasi stasiun pengamatan. Kemudian, dengan menggunakan metode Line Intercept Transect tim survey berhasil membuat 8 titik pengamatan untuk mengetahui keragaman jenis dan kondisi tutupan karang dan biota laut lainnya di Cagar Alam Laut Tambling. Peralatan yang digunakan seperti meteran 50 meter, alat tulis bawah air, alat selam (SCUBA sets) dan Kamera video bawah air.

Titik pertama pengamatan dilakukan di perairan Gosong Penipahan yang terletak pada bagian Barat CAL Tambling. Pada umumnya, perairan ini merupakan perairan Samudera (Samudera Indonesia) yang memiliki daerah pembentukan terumbu (reef type) patch reef (Gosong). Berdasarkan hasil pengamatan, perairan yang memiliki kedalaman antara 9 -12 meter ini memiliki tutupan karang dalam kondisi rusak sebesar 62,58 %, karang dalam kondisi baik sebesar 33,82 %, dan lainnya berupa biota asosiasi non-karang dan lingkungan abiotik. Perairan Gosong Penipahan memiliki lebih kurang 6 spesies karang dan 2 jenis biota asoasiasi non-karang, 12 jenis ikan karang. Spesies karang terdiri dari Goniopora sp, Turbinaria peltata, Montipora sp, Platygira sp, Cladiella sp, dan Discosoma sp. Jenis biota asosiasi non karang terdiri dari jenis Jaspis sp dan Coraline Algae dari jenis Halimeda sp. Jenis ikan karang terdiri dari ikan-ikan seperti Chromis fish, Damsel fish, Anthias fish, dan Goby fish.

Pada titik dua hingga titik lima pengamatan dilakukan di perairan Gosong Way Nipah sampai dengan Tanjung Belimbing. Pada daerah yang memiliki kedalaman 9 – 14 meter ini tidak dapat ditemukan terumbu karang karena tingkat kekeruhan air yang terlalu tinggi (jarak pandang < 10 cm). Hal ini disebabkan oleh adanya penumpukkan partikel di perairan ini yang terbawa aliran sungai yang bermuara di wilayah Gosong Way Nipah hingga mendekat Tanjung Belimbing.

Titik enam hingga titik delapan pengamatan dilakukan di perairan Tanjung Cina dan sekawat  yang merupakan wilayah perairan tempat pertemuan Teluk Semaka dengan Samudera Indonesia. Di perairan ini tingkat visibilitasnya (kecerahan) cukup tinggi (lebih dari 12 meter).  Pada umumnya, terumbu karang ditemukan pada kedalaman antara 5 – 12 meter dengan substrat dasar berupa pasir dengan tipe pembentukan terumbu karang tepi (fringing reef). Ekosistem terumbu karang yang tumbuh di perairan ini secara umum telah mengalami kerusakan cukup parah. Kemungkinanan, hal ini disebabkan oleh adanya penggunaan bom ikan pada waktu yang lampau dan proses penumpukkan partikel terlarut (seperti sedimen) terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Walaupun kondisi karang-karang telah hancur dan mati, di beberapa bagian telah mulai ditumbuhi beberapa jenis karang dan beragam biota asosiasi non-karang seperti Algae, Sponge, dan lainnya yang membentuk suatu suksesi baru.

Pada titik enam, tim survey menemukan lebih kurang 6 spesies karang, seperti Goniopora sp, Porites lobata, Montipora sp, Favia sp, Favites sp, dan Porites lutea serta lebih dari 23 jenis jenis ikan karang seperti Yellow tail fusilier, Parrot fish, Surgeon fish dan Hogfish. Pada titik tujuh ditemukan lebih kurang 6 spesies karang yaitu Montipora sp, Galaxea sp, Goniastrea sp, Acropora digitifera, Astreopora sp, dan Pocillopora verrucosa serta 6 spesies ikan karang seperti Yellow tail fusilier, Chromis fish, dan Damsel fish. Sedangkan di titik delapan, tim survey menemukan lebih kurang 4 spesies karang yaitu Astreopora sp, Turbinaria sp, Acropora digitifera, dan Montipora sp serta ada 19 spesies ikan karang seperti, Yellow tail fusilier, Surgeon fish, Parrot fish dan Black triggerfish.

Selain terumbu karang dan ikan karang yang ada di perairan CAL Tambling, tim survey juga melakukan perjumpaan langsung dengan penyu sisik dan penyu hijau. Selain itu, tim juga mendapati setidaknya ada tiga titik habitat penyu di sekitar dermaga Tanjung Belimbing, perairan Pelepasan dan di sekitar mercusuar.

***Srf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s