RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Dengan Metode METT

1 Komentar

gambar sitiTulisan ini ditulis berdasarkan Kegiatan Lokalatih Evaluasi Efektifitas Pengelolaan Kawasan Suaka Alam yang diselenggarakan oleh Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung Bekerjasama Dengan Balai KSDA Sumatera Selatan pada tanggal 3-5 Oktober 2013 di Palembang. Balai KSDA Lampung menugaskan tiga orang personil yang mewakili bidang perencanaan, PEH dan Polhut. Lokalatih evaluasi efektifitas pengelolaan kawasan suaka alam merupakan bagian dari kegiatan pemantauan pengelolaan kawasan konservasi.

Pemantauan kawasan konservasi merupakan target pemantauan yang sangat strategis dalam pengelolaan kawasan konservasi apalagi kondisinya semakin mengkhawatirkan. Kekhawatiran muncul akibat pengelolaan kawasan konservasi tersebut tidak kunjung mencapai tujuan-tujuan utama penetapannya. Salah satu tanggapan atas kekhawatiran tersebut adalah dengan menekankan perlunya peningkatan efektifitas dari pengelolaan kawasan konservasi. The World Commission on Protected Areas (WCPA) telah mengembangkan suatu kerangka kerja untuk penilaian efektifitas pengelolaan kawasan konservasi dan dalam perkembangannya menjadi metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT).

Metode METT bertujuan untuk membantu melaporkan kemajuan efektifitas pengelolaan kawasan bagi kepentingan manajemen secara adaptif dan untuk memberikan gambaran secara cepat mengenai kemajuan dalam upaya meningkatkan efektifitas pengelolaan dalam kawasan konservasi. Untuk memudahkan dalam proses penilaian maka direkomendasikan untuk menggunakan komputer karena selain lebih praktis juga lebih detil dalam menganalisis hasil penilaiannya. Proses penggunaan metode METT terdiri dari dua langkah, yaitu proses input data dan proses penilaian.

Struktur dan isi dari perangkat pemantauan METT ini dibuat dalam format excel yang terbagi ke dalam 6 sheet yaitu lembar data kawasan, data ancaman terhadap kawasan, lembar penilaian, perhitungan skor ancaman, grafik ancaman, perhitungan kuis (skor isu) dan grafik kuis. Berdasarkan hasil perhitungan kuis untuk skor isu/pertanyaan akan dihasilkan prosentase nilai efektifitas pengelolaan kawasan konservasi yang dinilai.

Berdasarkan hasil penilaian efektifitas pengelolaan kawasan CA dan CAL Kepulauan Krakatau pada saat lokalatih ini dihasilkan nilai efektifitas sebesar 61,90% dari jumlah skor 52 terhadap total skor 84. Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi nilai efektifitas tersebut adalah sudah tersedianya rencana pengelolaan kawasan periode 2004-2029, meskipun belum ada rencana pengelolaan jangka 10 tahunan sesuai amanat PP Nomor 28 Tahun 2011. Namun setidaknya acuan rencana pengelolaan jangka panjang sudah disusun sebagai salah satu dokumen yang harus ada dalam pengelolaan suatu kawasan. Faktor dominan lainnya adalah tentang kondisi nilai kawasan yang meliputi nilai keanekaragaman hayati, ekologis dan budaya yang bisa dikatakan masih dalam kondisi utuh sejak awal penunjukannya hingga saat ini dan bahkan mampu melindungi proses suksesi yang terjadi di kepulauan Krakatau.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi rendahnya nilai efektifitas adalah: 1) status hukumnya masih berupa SK penunjukan sehingga masih kurang kuat dasar hukumnya untuk mempertahankan kawasan cagar alam; 2) batas kawasan yang belum ada sehingga baru sebatas pengelola kawasan saja yang bisa mengetahui batas kawasan berdasarkan peta yang ada dalam lampiran SK penunjukan; 3) inventarisasi sumber daya alam hayati baru intensif dilakukan sejak lima tahun terakhir sebagaimana kegiatan inventarisasi terumbu karang, tumbuhan dan satwa liar di kawasan kepulauan Krakatau; 4) kegiatan monitoring dan evaluasi belum sepenuhnya memberikan kontribusi dalam tahap perencanaan kegiatan; dan 5) masyarakat adat sekitar kawasan secara spesifik tidak ada sehingga kearifan lokal masyarakat adat dalam pelestarian kawasan tidak ada. Masyarakat sekitar kawasan hanyalah masyarakat di Pulau Sebesi dan nelayan yang mencari ikan di sekitar kawasan Krakatau.

Isu prioritas untuk meningkatkan pengelolaan kawasan CA dan CAL Kepulauan Krakatau salah satunya adalah dengan merencanakan alokasi anggaran untuk kegiatan penataan batas kawasan.A pabila memungkinkan pelaksanaannya dapat direncanakan pada tahun 2015 dan bekerjasama dengan rencana usulan penganggaran yang tersedia di BPKH XX Lampung. Besarnya kebutuhan anggaran untuk kegiatan penataan batas kawasan tersebut maka penganggarannya dilakukan secara bertahap karena alokasi pagu anggaran tidak dapat terpenuhi pada satu periode tahun anggaran. Dengan terlaksananya kegiatan penataan batas tersebut maka langkah berikutnya segera dapat dilakukan tahap pengukuhan kawasan CA dan CAL Kepulauan Krakatau dengan SK penetapan kawasan oleh Menteri Kehutanan.Dengan demikian nilai efektifitas pengelolaan kawasan CA dan CAL Kepulauan Krakatau dapat semakin ditingkatkan.

***Stm

One thought on “Penilaian Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Dengan Metode METT

  1. Efektivitas.

    CMIIW
    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s