RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Pengelolaan Lingkungan di Belanda

Tinggalkan komentar

opini ariGod schiep de Aarde, maar de Nederlanders schiepen Nederlandadalah sebuah pepatah yang berarti “Tuhan menciptakan Bumi, tetapi orang Belanda lah yang menciptakan (daratan) Belanda”. Pribahasa ini menggambarkan bagaimana bangsa Belanda mampu bertahan hidup di lingkungan yang ekstrim. Secara topografis, sekitar 20% dari kerajaan yang sekarang dipimpin oleh Raja Willem-Alexander ini berada di bawah permukaan laut dan dihuni oleh kurang lebih 21% rakyat Belanda. Selain itu, sekitar 50% daratan Belanda berada kurang dari 1 meter di atas permukaan laut. Di masa lalu, Belanda pernah dilanda beberapa kali bencana banjir yang sangat  mematikan. Pengalaman buruk inilah yang membuat hampir seluruh rakyat Belanda paham benar bahwa menjaga keseimbangan lingkungan dan hidup serasi dengan alam adalah hal krusial untuk melindungi diri dan anak cucu mereka. Kondisi alam yang tidak menguntungkan juga mendorong rakyat Belanda untuk berjuang lebih keras agar kaki mereka tetap dapat menginjak daratan.

Negara lain seperti AS dan Rusia boleh berbangga dengan keunggulan teknologi militer dan anatariksanya, atau Jepang dan Jerman dengan industri otomotifnya, namun Belanda tetap menjadi juara dunia dalam pengelolaan air dan lingkungan. Di kerajaan yang didirikan oleh Willem van Oranje ini, terdapat banyak bendungan yang dibuat untuk memproteksi daratan dari luapan air laut dan sungai. Sistem pertahanan air ini dibuat secara berlapis-lapis sehingga jika satu bendungan jebol, masih ada bendungan lainnya yang menahan air. Selain bendungan, di Belanda juga terdapat ribuan kanal yang berfungsi untuk mengaliri air dan daerah resapan air berupa danau-danau alami dan buatan. Kanal dan danau sangat dijaga kebersihannya, tidak ada seorang pun yang berani mencemari dan mengotorinya karena diancam denda yang sangat besar. Adapun air hujan dan air buangan yang menggenangi daratan dipompa ke laut dengan energi angin yang dikonversi oleh ribuan kincir angin di seluruh penjuru negeri, sehingga menjadikan Belanda dikenal dengan sebutan “Negeri Kincir Angin”. Kemampuan Belanda dalam mengelola energi angin yang murah dan tanpa emisi ini adalah keunggulan lain negara ini. Kincir angin tidak hanya digunakan dalam sistem pertahanan air, tetapi juga untuk mengolah lahan pertanian, pembangkit listrik, dll.

Keunggulan Belanda dalam mengelola air tidak hanya dibuktikan dengan kecanggihan sistem pertahanan airnya. Di negara yang identik dengan warna oranye ini, minum air langsung dari keran sangat dianjurkan daripada membeli air minum kemasan. Hal ini karena air keran di Belanda yang diproses dengan teknologi membran tercanggih di dunia, berkualitas lebih baik daripada air minum kemasan. Selain itu, minum air keran juga berarti mengurangi sampah botol plastik yang dihasilkan oleh air minum kemasan.

Selain air, Belanda adalah salah satu negara dengan kualitas udara terbaik di dunia. Hal ini salah satunya dihasilkan oleh kebijkan energi dan transportasi yang bersinergi. Di Belanda, alih-alih disubsidi, justru BBM fosil dikenakan pajak sehingga harga BBM fosil di Belanda mencapai Rp 20.000 – 30.000,- per liter mengikuti harga minyak mentah dunia. Sebagai perimbangan, pemerintah memberikan subsidi yang besar untuk pengembangan energi beremisi rendah seperti pembangunan kincir angin, panel surya, dan BBM non fosil (biofuel). Selain itu, pemerintah juga memberlakukan tarif parkir yang mencekik leher. Untuk 1 jam parkir mobil di pusat kota, tarifnya sekitar Rp25.000,-. Hal-hal di atas ditujukan untuk mendidik masyarakat Belanda agar lebih bijak dalam menggunakan mobilnya dan lebih hemat dalam menggunakan BBM serta mau beralih ke moda transportasi massal yang ramah lingkungan seperti kereta api listrik. Tentu saja kebijakan-kebijakan tersebut juga dibarengi dengan penyediaan sarana transportasi massal yang tepat waktu, murah, aman, dan nyaman.

opini ari3Selain menyediakan tranportasi massal, pemerintah Belanda juga menstimulasi penggunaan sepeda untuk transportasi jarak dekat bagi warganya. Belanda adalah surga bagi pengguna sepeda karena di negara yang terkenal dengan keju ini, jalur sepeda tersedia di seluruh pelosok negeri, lengkap dengan rambu-rambu lalu lintas yang memadai serta fasilitas parkir sepeda yang cukup tersedia dan gratis. Penggunaan sepeda yang masif di Belanda tidak hanya karena stimulasi pemerintah, namun didukung pula oleh topografi Belanda yang datar dan kultur bersepeda masyarakatnya yang sangat kuat. Mulai dari menteri, pejabat pemerintah, profesor, dokter, artis terkenal, hingga rakyat jelata selalu menggunakan sepeda untuk transportasi jarak dekat tanpa perasaan sungkan dan malu, karena hal ini adalah kebiasaan orang Belanda. Anak-anak Belanda mulai diajarkan bersepeda roda dua oleh orang tua mereka sejak berusia 3 – 4 tahun.

Bagi masyarakat Belanda, konservasi alam adalah hal yang sangat penting. Ruang terbuka hijau dan taman-taman selalu ada di setiap sudut kota. Di dalamnya, hidup berbagai burung liar seperti bebek kepala hijau, bangau, camar, merpati, dll. Burung-burung ini juga bebas berkeliaran di kanal-kanal hingga ke wilayah perkotaan seperti pusat pertokoan dan pemukiman penduduk. Kegiatan pembinaan habitat burung-burung ini dilakukan secara berkala oleh petugas pemerintah dan sukarelawan, biasanya berupa pembuatan kandang bertelur dan shelter, penyediaan koridor migrasi, penyediaan pakan di musim dingin, dll. Di Belanda, hampir tidak ada warga yang mengganggu keberadaan satwa liar. Hal ini karena selain tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi, juga disebabkan oleh ancaman hukuman penjara dan denda yang berat, ditambah hukuman sosial yang tak kalah menakutkan, dimana pelaku akan dikucilkan dan mendapat julukan sebagai “asosial” oleh masyarakat di sekitarnya.

Negara yang semarak dengan bunga tulip ini adalah salah satu negara yang memiliki Partai Politik untuk Satwa (Partij voor de Dieren/ PvdD). Dari namanya, jelas bahwa kebijakan utama partai ini adalah melindungi satwa dan habitatnya di Belanda. Eksistensi partai ini dibuktikan dengan keberhasilannya mendudukkan 2 orang wakil di DPR dan 1 orang di Senat saat ini. Konstituen terbesar patai ini berasal dari generasi muda Belanda yang peduli pada perlindungan satwa. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa bagi sebagian rakyat Belanda, isu perlindungan satwa telah dianggap cukup penting untuk masuk ke ranah politik.

Sebagai penutup, tulisan singkat yang didasarkan dari pengalaman penulis selama menempuh pendidikan master di Belanda ini, sama sekali tidak ditujukan untuk membanding-bandingkan Belanda dan Indonesia, apalagi menyanjung-nyanjung negara yang sering kita anggap sebagai “mantan penjajah” ini. Belanda yang hanya sedikit lebih luas dari Propinsi Lampung dengan sekitar 16,8 juta penduduk tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan Indonesia yang jauh lebih luas dengan 237 juta lebih penduduk nya. Permasalahan di Indonesia jauh lebih kompleks dan dinamis dibandingkan Belanda. Namun demikian, uraian ini mungkin dapat menjadi referensi tentang bagaimana karakter sebuah bangsa yang peduli lingkungan dibentuk oleh interaksi dengan lingkungan yang ektrim selama ratusan tahun, serta bagaimana bangsa Belanda berjuang keras untuk menyelaraskan diri dengan alam melalui cara-cara yang alami, manusiawi, dan inovatif.

***Art

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s