RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Hutan Mangrove Lampung Timur Sebagai Salah Satu Tujuan Wisata Lampung

Tinggalkan komentar

1Kabupaten Lampung Timur terletak di sisi tenggara Provinsi Lampung dengan luas mencapai 5.325,05 km2 atau + 15% luas Provinsi Lampung. Lampung Timur memiliki kawasan hutan yang lengkap, yang terdiri dari hutan konservasi Taman Nasional Way Kambas, hutan lindung Register 38 Gunung Balak dan Register 15 Muara Sekampung, dan hutan produksi Register 37 Way Kibang dan Register 40 Gedongwani, serta hutan rakyat yang tersebar merata di 24 Kecamatan di Lampung Timur. Berdasarkan pembagian DAS di Provinsi Lampung, terdapat tiga DAS di Kabupaten yang berdiri sejak tahun 1999, yaitu Way Sekampung, Way Seputih dan Abar Kambas. Dalam posisi DAS ini, Lampung Timur berada di bagian hilir.

Ekosistem hutan mangrove dan pantai berada di sisi timur, tepatnya di pantai timur Sumatera. Kawasan ini memanjang dari bagian utara di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang berbatasan dengan Kabupaten Tulang Bawang, hingga Muara Sekampung yang berbatasan dengan Kabupaten Lampung Selatan. Panjang garis pantai mencapai lebih dari 110 km; + 70 km berada di wilayah TNWK, sedangkan +40 km berada di Kecamatan Labuhan Maringgai dan Pasir Sakti.

Terdapat sepuluh desa pantai di Bumei Tuwah Bepadan, Kabupaten Lampung Timur, yang terdiri enam desa di Kecamatan Labuhan Maringgai dan empat desa di Kecamatan Pasir Sakti. Desa di Kecamatan Labuhan Maringgai terdiri dari Desa Margasari, Sriminosari, Muara Gading Mas, Bandar Negeri, Karya Makmur dan Karya Tani. Sedangkan desa di Kecamatan Pasir Sakti terdiri dari desa Pasir Sakti, Mulyosari, Purworejo, dan Labuhan Ratu. Dari sepuluh desa pantai, tujuh diantaranya berada di dalam kawasan hutan lindung Register 15 Muara Sekampung, yaitu Bandar Negeri, Karya Makmur, Karya Tani di Kecamatan Labuhan Maringgai, serta desa Pasir Sakti, Mulyosari, Purworejo, Labuhan Ratu di Kecamatan Pasir Sakti.

Pengelolaan hutan mangrove dilaksanakan oleh seluruh stakeholders, yang terdiri dari masyarakat, aparat desa, kecamatan, pemerintah daerah kabupaten dan Provinsi, serta pemerintah pusat. Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial terus menerus memberikan perhatian dalam pengelolaan hutan mangrove. Perhatian diberikan secara langsung atau melalui pelaksana teknisnya di daerah, yaitu Balai Pengelolaan DAS Way Seputih Way Sekampung dan Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah II Medan.

Pemerintah Kabupaten Lampung Timur juga tidak ketinggalan melakukan berbagai langkah dan upaya dalam pengelolaan hutan mangrove. Sejak tahun 2006, Disbunhut Lampung Timur melaksanakan program rehabilitasi hutan mangrove bersama masyarakat dan kelompok tani. Selanjutnya, Disbunhut Lampung  Timur juga membentuk Pam Swakarsa yang berasal dari tokoh dan ketua kelompok, serta Tim Koordinasi Terpadu yang beranggotakan pengurus desa dan uspika. Pada tahun 2007, Disbunhut Lampung Timur juga bekerja sama dengan Batalyon Marinir TNI AL Piabung Lampung melakukan penanaman mangrove. Sejak tahun 2009, Dinas Perkebunan dan Kehutanan memfasilitasi dukungan kepada Pam Swakarsa dan Tim Koordinasi Terpadu melalui APBD Lampung Timur.

Keberadaan Pam Swakarsa dan Tim Koordinasi Terpadu sangat memberikan dampak positif dalam kelestarian dan pengamanan hutan mangrove. Selain itu, dilakukan juga program kegiatan pembinaan dan sosialisasi, pembuatan alat pemecah ombak (APO), jembatan pengawasan, serta penanaman bibit mangrove.

Hutan mangrove telah tumbuh dengan baik di sepanjang hampir 20 km pantai timur Sumatera, dari Kuala Penet di Kecamatan Labuhan Maringgai hingga Muara Sekampung di Kecamatan Pasir Sakti. Ketebalan ada yang mencapai lebih 1.000 meter dengan ketebalan rata-rata mencapai 400 meter. Jenis yang mendominasi adalah Rhizophora sp. (Bakau) dan Avicennia sp. (Api-api). Hutan mangrove yang masih baik kondisinya terdapat di Desa Purworejo dan Mulyosari, Kecamatan Pasir Sakti, serta Margasari dan Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai. Bahkan, di desa Margasari terdapat Lampung Mangrove Center (LMC) yang dikelola oleh Universitas Lampung. Sedangkan di desa Purworejo terdapat Arboretum Mangrove yang difasilitasi oleh Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah II Medan, Kementerian Kehutanan.

Kerusakan hutan mangrove banyak diakibatkan oleh alam yaitu abrasi. Besarnya ombak dan angin mengakibatkan kerusakan hutan. Hal ini dikarenakan iklim perairan pesisir yang dipengaruhi oleh Samudera Hindia yang dicirikan oleh angin muson dan curah hujan tinggi. Angin berhembus dari arah selatan pada bulan Mei sampai September, dan dari arah berlawanan pada bulan November sampai Maret. Gelombang besar terjadi pada bulan Juni hingga November dengan ketinggian gelombang mencapai  0,5 – 1 meter. Selain itu, ada juga gangguan lain dari binatang air yang memakan batang dan akar pohon bakau. Namun, fenomena alam ini juga memberikan dampak positif, yaitu munculnya tanah timbul yang memberikan ruang untuk penambahan areal hutan mangrove yang berfungsi sebagai sabuk hijau (green belt)

Selain memberikan perlindungan terhadap daratan, hutan mangrove juga memberikan nilai positif bagi budidaya tambak ikan dan udang yang dikembangkan oleh masyarakat. Sehubungan dengan keberadaan hutan mangrove yang berada dalam kawasan hutan lindung, maka program Hutan Desa Mangrove akan dikembangkan. Hutan Desa Mangrove adalah sebuah solusi terbaik bagi masyarakat dan kelestarian hutannya. Apabila berhasil, kawasan ini akan menjadi Hutan Desa Mangrove pertama di Provinsi Lampung.

Pesona hutan mangrove dan pantai di Kabupaten Lampung Timur menjadi sebuah alternatif tujuan wisata di Provinsi Lampung. Dengan keberadaannya di sisi lintas timur, menjadikan kawasan ini sangat strategis dan sangat mudah dijangkau oleh masyarakat Sumatera dan Jawa yang melintasinya. Jalan lintas timur merupakan jalan yang menghubungkan seluruh provinsi di sisi timur Sumatera dari Lampung hingga Aceh, yang terkoneksi dengan pelabuhan penyeberangan Bakauheni.

Keindahan hutan dengan berbagai jenis tanaman, serta habitat dari beberapa satwa menjadi daya tarik bagi wisata jasa lingkungan dan ekowisata. Selain itu, tentunya dapat juga menjadi wisata pendidikan bagi siswa, serta lokasi penelitian bagi mahasiswa dan dosen. Tak kalah menariknya, kawasan ini menjadi lengkap dengan adanya lokasi wisata kuliner dari hasil laut dan tambak.

***Wcs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s