RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Meretas Jalan Konservasi Keanekaragaman Hayati via CITES

Tinggalkan komentar

Paradigma konservasi yang hanya mengedepankan aspek perlindungan telah menjauhkan esensi konservasi sumber daya alam hayati dari tujuan utamanya, yaitu mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Seperti yang tertuang dalam undang-undang konservasi bahwa konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Perhatian akan beralih kepada valuasi nilai intrinsik maupun ekstrinsik dari setiap sumber daya yang dilestarikan. Perhatian pada bisnis berbasis konservasi diprediksi akan semakin berkembang. Perdagangan dalam dan luar negeri merupakan bagian dari upaya memanfaatkan tumbuhan dan satwa liar dan menjadi urat nadi dalam bisnis berbasis konservasi. Namun, perdagangan tumbuhan dan satwa liar harus legal, dapat ditelusuri (traceable) dan berkelanjutan. Perdagangan legal dapat memberi keuntungan bagi konservasi tumbuhan dan satwa liar, serta masyarakat.

logo-citesCITES atau Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora, adalah konvensi perdagangan international tumbuhan dan satwa langka. Konvensi CITES mengatur mekanisme perdagangan tumbuhan dan satwa liar secara internasional untuk memastikan kelestariannya. CITES mulai berlaku mengikat sejak 1 Juli 1975 dan Indonesia meratifikasi konvensi ini pada tahun 1978.

Tumbuhan dan satwa liar merupakan komponen alam yang tidak dapat digantikan, sekali punah, tak pernah kembali. Nilai intrinsik dan ekstrinsik terus berkembang, seperti untuk ilmu pengetahuan, budaya, sosial ekonomi dan rekreasi sehingga perlu dipertahankan kelestariannya. Perdagangan berkontribusi terhadap punahnya tumbuhan dan satwa liar jika tidak dikendalikan. Pengendalian perdagangan internasional TSL perlu kerjasama antar pemerintah (lintas batas negara). Dalam konteks ini CITES menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan.

Tujuan CITES adalah untuk menjamin tumbuhan dan satwa liar dalam perdagangan internasional tidak dieksploitasi secara tidak berkelanjutan. Segala ketentuan dalam konvensi CITES akan berlaku ketika tumbuhan dan satwa liar akan diperdagangkan lintas negara.  CITES mengatur export, re-expor, impor dan introduction from the sea dari spesies satwa baik hidup atau mati, dan spesies tumbuhan baik bagian-bagian maupun turunan-turunannya (spesies yg terdapat dalam appendix) melalui sistem permit dan sertifikat.

Spesies yang dikontrol oleh regulasi CITES terbagi ke dalam 3 kategori, yaitu appendix I, II, dan III. Appendix I adalah kelompok spesies yang terancam punah yang mungkin terpengaruh oleh perdagangan. Perdagangan internasional spesies ini secara komersial dari alam adalah dilarang, kecuali hasil penangkaran. Terdapat 655 spesies satwa dan 298 spesies tumbuhan termasuk dalam kategori appendix ini.

Appendix II adalah kelompok spesies yang saat ini tidak terancam punah tetapi mungkin menjadi demikian jika perdagangannya tidak dikontrol dengan ketat. Perdagangan internasional diperbolehkan tetapi diatur, antara lain dengan sistem kuota. Terdapat 4.399 spesies satwa dan 28.679 spesies tumbuhan.

Appendix III adalah kelompok spesies yang diproteksi oleh suatu negara dan negara lain diharapkan dapat membantu melakukan kontrol terhadap ekspornya. Perdagangan internasional spesies ini diperbolehkan tetapi diatur seperti appendix II. Terdapat 160 spesies satwa dan 10 spesies tumbuhan termasuk dalam appendix III.

Dalam pengaturan peredaran tumbuhan dan satwa liar di Indonesia dikenal juga terminologi tumbuhan dan satwa dilindungi dan tidak dilindungi. Berkaitan dengan CITES, ketentuan-ketentuan ini melahirkan setidaknya 4 kelompok tumbuhan dan satwa liar, yaitu TSL dilindungi dan appendix CITES, TSL dilindungi tetapi non appendix CITES, TSL tidak dilindungi tetapi appendix CITES, serta TSL tidak dilindungi dan non appendix CITES.

Ketentuan CITES mewajibkan setiap negara anggota menunjuk satu atau lebih otoritas pengelola (Management Authority/MA) dan otoritas keilmuan (Scientific Authority/SA). MA bertanggung jawab dalam aspek administratif pelaksanaan CITES (legislasi, pelaksanaan legislasi, penegakan hukum, pelayanan perijinan, pelaporan, dan komunikasi dengan institusi CITES lainnya). SA bertanggung jawab memberikan saran kepada MA mengenai non-detriment findings atau NDF (perdagangan tidak akan merusak populasinya di alam) dan aspek-aspek ilmiah lainnya mengenai implementasi dan pemantauan perdagangan internasional.

Kementerian  Kehutanan ditetapkan sebagai otoritas pengelola dan LIPI ditetapkan sebagai otoritas keilmuan. Puslit Biologi LIPI berdasarkan hasil survei dan realisasi ekspor tahun sebelumnya memberikan rekomendasi kuota ambil/tangkap. Berdasarkan rekomendasi dari SA, Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan menetapkan kuota ambil/tangkap dan kuota ekspor.  Melalui PP No.60 Tahun 2007 Kementerian Kelautan dan Perikanan ditetapkan juga sebagai CITES Management Authority untuk spesies aquatik.

Pada akhir Juni lalu, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan melakukan pembinaan teknis kepada para stakeholders yang terkait dengan pengelolaan peredaran dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Lampung. Selain Balai KSDA Lampung, hadir juga berbagai pihak seperti polda Lampung, Polairut Lampung, Bea Cukai Bandar Lampung, Balai Karantina Kementerian Pertanian, mahasiswa dan dosen Kehutanan Unila. Para pihak ini merupakan Mitra kerja dalam implementasi CITES pada tingkat nasional.

***Hts.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s