RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Kelapa sawit Versus Buaya Muara di Tulang Bawang

Tinggalkan komentar

Degradasi dan penyusutan habitat menjadi penyebab utama konflik satwa liar dan manusia. Degradasi dan penyusutan habitat terjadi karena berbagai sebab seperti perubahan habitat satwa menjadi fungsi lain, seperti areal pertanian dan perkebunan sawit karet. Tentunya, perubahan ini tidak mendukung kebutuhan ruang dan pakan satwa. Di sisi lain, masyarakat juga melakukan perburuan terhadap satwa-satwa mangsa, baik karena dipandang menjadi hama seperti babi hutan. Ikan, sebagai mangsa buaya pun, turut dikonsumsi manusia untuk pemenuhan kebutuhan protein. Akibatnya, buaya keluar dari daerah jelajahnya, untuk memenuhi kebutuhan pakan.

Belum adanya komitmen kuat dari berbagai pihak, penegakan hukum yang lemah dan kurangnya pemahaman masyarakat dan pengambil kebijakan di daerah terhadap konservasi satwa liar membuat persoalan konflik satwa kian rumit. Perubahan gaya hidup masyarakat menjadi konsumtif akan melahirkan pergeseran kearifan lokal masyarakat sekitar kawasan konservasi kemungkinan dapat menjadi penyebab utama perilaku-perilaku sadis terhadap satwa liar. Namun, nampaknya tidak sesederhana ini penyebabnya. Industri-industri pengguna hutan, seperti perkebunan sawit, ataupun pertambangan yang begitu mudah perizinannya merupakan kesalahan dari kebijakan pemerintah. Mereka begitu mudahnya melakukan usaha di dalam kawasan yang seharusnya wajib menjadi kawasan konservasi.

Nampaknya, hal-hal tersebut yang kembali memicu terjadinya konflik satwa liar dan manusia di Kampung Aji Jaya KNPI Kec. Gedong Aji Lama, Kabupaten Tulang Bawang. Konflik yang memakan korban bernama Slamet ini pada tanggal 4 Juni 2013. Hal ini bukan yang pertama kali setelah sebelumnya terjadi pada bulan Februari. Korban yang sedang mencari rumput di rawa tiba-tiba diterkam oleh buaya. Rekan pencari rumput lainnya yang berada jauh dari tempatnya mencari rumput tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan korban.

Lokasi tempat kejadian tidak berada dalam kawasan hutan, melainkan kawasan sungai dan rawa yang luas. Kawasan sungai beserta rawa di kabupaten Tulang Bawang merupakan habitat buaya muara dan burung-burung air yang memang hidup liar di sekitar wilayah tersebut, terutama saat musim penghujan seperti saat ini. Lokasi kejadian  merupakan satu kesatuan ekosistem dengan kawasan Rawa Pacing.

Kampung Aji Jaya KNPI Kec Gedong Aji Lama Kabupaten Tulang Bawang telah didominasi oleh areal kelapa sawit. Hal ini juga yang menyebabkan berkurangnya areal rawa yang merupakan habitat buaya. Ekspansi perkebunan sawit hingga merangsek kawasan-kawasan rawa habitat buaya muara selalu menimbulkan dilema. Perkebunan kelapa sawit tengah berkembang di Indonesia, termasuk di Kabupaten Tulang Bawang.

Kelapa sawit adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Kelapa sawit dapat tumbuh baik pada areal dengan curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang tahun, Suhu optimal 26°C, Kelembaban rata-rata 75 %, dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi dan draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan padas, pH tanah antara 5,5 – 7,0. Tanaman kelapa sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati yang pada saat ini menjadi komoditas pertanian utama dan unggulan di Indonesia.

Selama bertahun-tahun kelapa sawit mampu memainkan peranan yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia sebagai salah satu komoditas andalan dalam menghasilkan devisa. Perannya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 total devisa yang dihasilkan dari industri ini mencapai sekitar US $ 5 miliar. Pemerintah Indonesia telah mencadangkan 9,13 juta hektar untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Saat ini luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia sudah mencapai 6,7 juta hektar. Sejak tahun 2007, Indonesia telah menjadi negara penghasil CPO (Crude Palm Oil) tertinggi di dunia.

Daftar panjang konflik antara manusia dengan satwa liar di negeri ini nampaknya telah menjadikan keprihatinan tersendiri bagi segenap bangsa Indonesia. Akar konflik yang diduga penyebabnya berasal dari permasalahan ekonomi telah membuat konflik tersebut berlarut-larut. Meskipun tidak semua akar konflik disebut berasal dari permasalahan ekonomi, tetapi nampaknya tetap akan berujung pada titik “ekonomi”.

Nuansa pertentangan antara konservasi dengan ekonomi sangat terlihat di daerah Tulang Bawang, sehingga konflik satwa liar jenis buaya muara (Crocodylus porosus) berpotensi akan terus terjadi. Kawasan lahan basah, seperti di daerah tulang bawang, merupakan lahan yang subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian baik persawahan, pertambakan, maupun perkebunan sawit. Hal ini akan terus mendorong terjadinya konflik di daerah ini, sehingga pilihannya adalah konservasi atau ekonomi. Ironi.

Untuk menekan terjadinya konflik ataupun mengurangi kerugian pada kedua belah pihak, perlu adanya penyamaan persepsi tentang konservasi satwa liar dan keinginan kuat untuk selalu memasukkan kebutuhan ruang dan pakan satwa liar ke dalam perencanaan pembangunan. Pemahaman masyarakat yang mendalam tentang interaksi dan keterkaitan antar-komponen dalam suatu ekosistem serta pengembangan ekonomi alternatif merupakan upaya-upaya yang harus dibangun untuk mendapatkan komitmen bersama. Untuk mewujudkan hal tersebut, sektor-sektor terkait dalam pembangunan harus selalu bergandengan tangan agar langkah yang akan diambil selalu seirama.

***Yyd.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s