RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Esensi Pelaporan Ditinjau Dari Kacamata Penganggaran Berbasis Kinerja

Tinggalkan komentar

Dalam kerangka Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK), pemerintah senantiasa menjalankan roda pemerintahannya dengan orientasi pada hasil (result oriented government). Pemerintahan yang berorientasi pada hasil pertama-tama akan fokus pada kemaslahatan bagi kepentingan masyarakat dan berupaya untuk menghasilkan output dan outcome yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Output itu sendiri merupakan hasil langsung dari program atau kegiatan yang dijalankan pemerintah dan dapat berwujud sarana, barang dan jasa pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan outcome adalah berfungsinya sarana, barang dan jasa tersebut sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat. Output dan outcome inilah yang selayaknya dipandang sebagai kinerja, bukan kemampuan menyerap anggaran seperti persepsi yang ada selama ini.

79891-royalty-free-rf-stock-illustration-of-a-collage-of-words-strategic-planning-version-3Penganggaran berbasis kinerja itu sendiri merupakan suatu pendekatan dalam sistem penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan kinerja yang diharapkan, serta memperhatikan efisiensi dalam pencapaian kinerja tersebut. Dalam penganggaran berbasis kinerja diperlukan indikator kinerja, standar biaya, dan evaluasi kinerja dari setiap program dan jenis kegiatan. Terwujudnya penganggaran berbasis kinerja ini tak luput dari satu hal kecil namun sangat menentukan dalam proses-proses selanjutnya yaitu kegiatan penyusunan pelaporan.

Esensi pelaporan sangat strategis dalam proses pembangunan karena akan selalu dilibatkan dalam beberapa proses lanjutan secara berjenjang termasuk dalam tahap rencana kinerja, capaian kinerja, evaluasi kinerja bahkan penilaian kinerja. Sistem pelaporan secara berjenjang dimulai dari pelaporan tingkat pelaksana/penanggung jawab kegiatan sampai dengan pelaporan di tingkat pusat. Dalam pertanggungjawaban penganggaran berbasis kinerja pelaporan dibedakan menjadi laporan keuangan dan laporan kinerja yang mempunyai peran yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya.

Satuan output yang digunakan dalam pengukuran kinerja salah satunya adalah laporan. Pelaporan atau laporan kegiatan mempunyai posisi dan kepentingan yang tidak bisa dianggap enteng baik ditinjau dari substansi pelaporan itu sendiri, proses yang melekat pada keberadaan pelaporan, maupun sisi pertanggung jawaban pelaksanaan suatu kegiatan. Jadi, laporan janganlah dipandang hanya sebatas lembaran-lembaran kertas namun lebih dari itu justru merupakan suatu sumber data yang dapat memberikan informasi yang cepat, tepat dan akurat kepada pemangku kepentingan sebagai bahan pengambilan keputusan serta penentuan kebijakan.

Laporan juga berperan sebagai bahan dalam penyusunan rencana kegiatan lanjutan maupun untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan suatu kegiatan. Dalam hal ini perencana dituntut untuk mampu menyusun konsep perencanaan berdasarkan laporan yang ada tanpa melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Kredibilitas seorang perencana dapat dipertaruhkan apabila salah dalam merencanakan suatu kegiatan. Perencanaan yang telah disusun dengan baik, tidak ada artinya jika tidak dapat dilaksanakan. Disinilah peran para penanggung jawab kegiatan juga dituntut untuk memberikan laporan dengan sajian data yang benar-benar akurat sesuai kondisi yang sebenarnya di lapangan. Sinergitas antara perencana dengan pelaksana/penanggung jawab kegiatan bahkan dengan evaluator kegiatan merupakan kebutuhan mutlak.

Dalam bagan alir berikut terlihat jelas bahwa dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja, output berhasil dicapai dengan adanya alokasi dukungan anggaran. Namun yang lebih penting lagi bahwa apakah anggaran yang dialokasikan tersebut benar-benar dapat mendukung capaian indikator kinerja ataukah tidak. Disinilah nantinya performance dari masing-masing kegiatan dapat dinilai apakah kegiatan tersebut memang benar-benar dapat mendukung capaian kinerja kegiatan dan bahkan capaian kinerja utama.

Suatu pelaporan mempunyai esensi penting dalam kaitannya penganggaran berbasis kinerja kiranya dapat dipahami, oleh karenanya keberadaan pelaporan merupakan hal yang mesti tersedia sebagai sumber input data untuk mendukung perencanaan penganggaran berbasis kinerja. Terkait esensi pelaporan dari sudut penganggaran berbasis kinerja ini diharapkan bisa menjadi awal untuk berbenah diri dalam rangka implementasi reformasi birokrasi lingkup Kementerian Kehutanan. Perlunya pemahaman dan kesadaran untuk bersama-sama mewujudkan money follows function karena dalam manajemen berbasis kinerja berlaku No Performance No Money.

***Stm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s