RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita

Para Penjaga Gunung Banten

Tinggalkan komentar

Picture6Gunung Banten, begitulah penduduk sekitar menyebut bukit batu yang terletak hampir di tengah kota Bandar Lampung ini. Meskipun bukit ini tidak terlalu tinggi, namun tetap saja tempat ini disebut gunung. Bukit batu ini dikelilingi oleh perumahan padat penduduk. Konon, di Gunung Banten ini terdapat makam seorang sesepuh bernama Mbah Banten. Di kaki bukit ini terdapat pohon beringin (Ficus benjamina) yang berukuran besar. Masyarakat sekitar meyakini pohon ini sebagai kerajaan monyet.

Berdasarkan laporan, Gunung Banten memang menjadi salah satu area persebaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Bandar Lampung. Kawasan tersebut menjadi habitat monyet ekor panjang sekaligus juga berdekatan langsung dengan pemukiman warga. Ketika monyet ekor panjang harus hidup berdampingan dengan manusia, akan muncul kemungkinan terjadinya konflik antara keduanya.

Tidak hanya di Bandar Lampung, monyet ekor panjang merupakan salah satu jenis primata yang tersebar luas di dunia. Primata ini memiliki sifat yang kosmopolit, yaitu dapat hidup di banyak tempat, dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia (Supriatna dan Wahyono, 2000). Monyet ekor panjang ini hidup berkelompok, terdiri dari banyak jantan dan betina dewasa. Besar kecilnya anggota suatu kelompok dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya ketersediaan sumber pakan, predasi, tempat berlindung, dan persaingan yang terjadi baik secara interspesifik ataupun intraspesifik.

Beberapa waktu lalu, Walikota Bandar Lampung mendapat laporan bahwa monyet di Gunung Banten sudah meresahkan dan menganggu masyarakat. Gangguan seperti ini bisa berpotensi menjadi konflik antara monyet ekor panjang dan manusia. Konflik ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya jumlah populasi monyet ekor panjang yang semakin meningkat. Bahwa monyet ekor panjang “overpopulasi” di suatu wilayah selalu menjadi alasan terjadinya konflik. Namun, jika populasinya belum dihitung secara tepat, belum tentu bisa dikatakan sebagai “overpopulasi”. Jika ditelaah lebih lanjut, pasti ada penyebab lain mengapa kelompok monyet ekor panjang mendatangi pemukiman penduduk.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai KSDA Lampung melakukan survey populasi dan habitat monyet ekor panjang di Gunung Banten. Survey dilakukan untuk mengatahui potensi konflik yang dapat terjadi serta menyusun strategi yang tepat untuk mengurangi potensi konflik yang terjadi di kawasan Gunung Banten. Tim BKSDA Lampung, dibantu oleh personil mitigasi konflik satwa liar-manusia dari Yayasan IAR Indonesia, melakukan survey selama 10 hari.  Metode survey yang digunakan adalah teknik encounter survey dan scan sampling. Teknik Encounter survey digunakan untuk menghitung jumlah individu dan populasi serta komposisi (sex dan kelas umur) dari masing-masing individu monyet ekor panjang. Teknik Scan Sampling digunakan untuk  mengamati aktivitas yang dilakukan kelompok monyet ekor panjang, dari pagi (di sekitar pohon tidur) hingga sore (saat kembali ke pohon tidur). Pencatatan aktivitas dilakukan dengan interval waktu 5 menit.  Luasan habitat monyet ekor panjang diukur menggunakan GPS receiver.

Populasi Monyet Ekor Panjang di Gunung Banten.

Picture1Di Gunung Banten tedapat dua kelompok monyet ekor panjang. Ciri fisik kami gunakan untuk memudahkan dalam mengidentifikasi individu dalam masing-masing kelompok. Yang pertama, kami namakan kelompok Mata Picek. Kelompok ini ditandai oleh jantan dewasa (alfa male) sebagai pimpinan kelompok memiliki mata kiri yang mengalami kebutaan (tertutup). Kelompok ini berjumlah 37 ekor.  Selain itu, ciri lain dari kelompok ini adalah; terdapat 3 individu jantan dewasa berukuran besar, 1 individu jantan dewasa berbadan kecil, 3 individu betina dewasa yang sedang hamil, serta 3 individu betina dewasa yang menggendong anak.

Kelompok Mata Picek menggunakan pohon beringin sebagai pohon untuk tidur. pohon beringin ini berdekatan langsung dengan makam dan perumahan warga. Pagi hari, seluruh anggota kelompok Mata Picek masih beraktivitas di sekitar pohon beringin tersebut. Pada siang hari, kelompok ini akan menyebar menjadi kelompok-kelompok kecil, sebagian menuju puncak bukit dan sebagian yang lain menuju kawasan makam warga. Kemudian pada sore hari, kelompok-kelompok kecil tersebut kembali ke pohon beringin melalui perumahan penduduk, karena pada saat sore hari warga sekitar Gunung Banten terbiasa memberikan makanan kepada monyet ekor panjang.

Kelompok kedua kami namakan Kelompok Paha Sobek. Konon, jantan dewasa yang menjadi pemimpin kelompok ini memiliki sobekan luka di paha bagian belakang karena dilempar golok oleh penduduk ketika kelompok ini sedang asik berpesta memporak-porandakan makanan di rumah salah satu warga. Selain itu, ciri kelompok yang teridentifikasi adalah betina dewasa yang menggendong anak ada 1 individu dan kelompok ini memiliki banyak individu remaja.

Kelompok Paha Sobek memanfaatkan kawasan makam warga sebagai titik untuk pohon tidurnya. Di kawasan tersebut banyak dijumpai pohon aren dan sengon. Keseharian aktivitasnya dimulai dari aktivitas pagi di sekitar pohon untuk tidurnya.

Menjelang siang hari, kelompok akan bergerak menuju Gereja Katolik St. Yohanes dan Bukit Perahu (di seberang Gunung Banten)  melalui perumahan penduduk. Di gereja tersebut, kelompok monyet ekor panjang mengambil buah-buah mangga yang ada di depan gereja tersebut. Kemudian menjelang sore hari, kelompok Paha Sobek kembali ke kawasan makam warga melalui atap-atap rumah penduduk.

Habitat dan Pakan Alami Monyet ekor panjang.

Gunung Banten relatif aman dari pengrusakan habitat, tidak seperti bukit-bukit batu lainnya. Di bukit ini terdapat beberapa jenis tumbuhan yang juga dimanfaatkan oleh monyet ekor panjang sebagai pohon untuk tidur dan pohon pakan. Terdapat 17 jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan monyet ekor panjang di kawasan ini diantaranya aren, beunying, hamerang, petai cina, sengon, melinjo, markisa, sukun, dan mangga.

Namun, ada hal menarik lainnya yang diperoleh. Hasil survey menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan perilaku alami monyet ekor panjang di kawasan ini. Sejak lima tahun terakhir monyet ekor panjang mulai turun ke rumah-rumah warga untuk ‘meminta’ makan. Sebelumnya monyet tidak pernah turun ke pemukiman warga karena memang pakan alami masih tersedia cukup di kawasan Gunung Banten ini. Warga sekitar kawasan memang sudah sangat terbiasa untuk memberikan makan kepada monyet ekor panjang. Dampaknya, monyet ekor panjang kehilangan sifat alaminya. Pada saat warga tidak lagi memberikan makan, maka monyet tersebut akan menghampiri makanan di rumah-rumah warga. Tidak jarang ada laporan rumah-rumah warga yang dirusak oleh monyet ekor panjang.

Potensi Konflik antara Monyet ekor panjang dan Manusia Di Gunung Banten.

Berdasarkan hasil survey, diketahui terdapat beberapa fakta yang menarik untuk diperhatikan terkait dengan potensi terjadinya konflik antara manusia dan monyet ekor panjang, yaitu:

1.   Terdapat 8 titik pembuangan sampah di kawasan Gunung Banten.

Dari titik pembuangan sampah tersebut, menyebabkan kelompok monyet ekor panjang memanfaatkan sampah sebagai sumber makan alternatifnya. Dampak negatif yang akan terjadi adalah akan semakin hilangnya sifat natural dari satwa ini.

2.    Terdapat 4 pintu masuk menuju kawasan Gunung Banten. Keempat pintu tersebut sangat berdekatan dengan pemukiman warga.

3.    Sebagian warga menggunakan senapan untuk mengusir monyet.

Warga sekitar Gunung Banten yang merasa terganggu dengan keberadaan monyet ekor panjang mengusirnya dengan menggunakan senapan. Walaupun memang, masyarakat tidak berani membunuh satwa ini karena beredar anggapan bahwa monyet di lokasi ini adalah “monyet jadi-jadian”. Masyarakat meyakini bahwa pembunuh satwa ini akan mendapat musibah.

Untuk menurunkan eskalasi konflik yang terjadi, perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut.

1.   Melakukan pembersihan titik-titik sampah yang terdapat di sekitar habitat monyet ekor panjang. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari monyet ekor panjang memanfaatkan sampah sebagai sumber makanannya.

2.   Memasang tempat sampah yang layak di sekitar habitat monyet ekor panjang yang tidak mudah diraih oleh monyet ekor panjang.

3.   Memasang papan pelarangan pemberian makan dan himbauan untuk tidak membuang sampah di kawasan dekat habitat monyet ekor panjang.

4.Menanam tumbuhan pakan alami di sekitar habitat monyet ekor panjang.

***Ras..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s