RAKATA

Ragam KSDA Dalam Berita


Tinggalkan komentar

Mengintip pengelolaan “Sang Adik” Krakatau: Pulau Surtsey, Islandia, Barat Laut Eropa

Keterangan gambar: Letak geografis Islandia dan Pulau Surtsey. (A) Negara Islandia berada di Barat Laut Eropa, (B) Pulau Surtsey terletak di Selatan Islandia. Pulau Surtsey terbentang dari permukaan laut hingga ketinggian 154 m, dan dipercaya terus berkembang. Photographs copyright by Wikipedia.

Keterangan gambar: Letak geografis Islandia dan Pulau Surtsey. (A) Negara Islandia berada di Barat Laut Eropa, (B) Pulau Surtsey terletak di Selatan Islandia. Pulau Surtsey terbentang dari permukaan laut hingga ketinggian 154 m, dan dipercaya terus berkembang. Photographs copyright by Wikipedia.

Pulau Anak Krakatau telah lama dikenal dengan keunikannya sebagai pulau yang muncul ke permukaan laut akibat aktivitas vulkanik Gunung Krakatau. Pada awal kemunculannya, Pulau ini diyakini tidak memiliki organisme hidup jenis apapun di permukaannya. Menariknya, hingga kini pulau ini telah menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna. Selain itu, Pulau ini juga menjadi pangkalan utama bagi para penjaga kawasan dan menjadi daya tarik utama para pengunjung.

Apabila kita berpikir bahwa Krakatau merupakan satu-satunya pulau dengan keunikan tersebut, mungkin kita harus kecewa karena ternyata Krakatau punya ‘saudara kembar’. Ia adalah Pulau Surtsey, di Islandia, salah satu negara di barat daya Eropa. Serupa Krakatau, Surtsey merupakan pulau yang muncul ke permukaan laut akibat aktivitas gunung api. Dibandingkan Krakatau, Surtsey berusia lebih muda, gunung ini lahir dari serangkaian erupsi pada tahun 1963 hingga 1967. Kenyataan bahwa Anak Krakatau memiliki “adik” tentunya tidak harus mengecilkan kebanggaan kita terhadap Krakatau, namun justru harus memotivasi kita untuk berpikir keras bagaimana memperlakukan Krakatau lebih dari sekedar mengelola “ala kadarnya”. Artikel singkat ini akan menelisik bagaimana Pulau Surtsey di Islandia dikelola serta membandingkannya secara proporsional dengan pengelolaan Krakatau.

Pulau Surtsey terletak 32 km di selatan Pulau Heimaey, Islandia, pulau berpenduduk terdekat dari kawasan. Sejak kelahirannya, gunung ini dilindungi untuk membatasi dengan ketat aktivitas manusia. Seperti halnya Krakatau, Surtsey merupakan laboratorium alami bagi proses kolonisasi area oleh flora dan fauna. Hingga saat ini, terdapat 60 jenis tumbuhan tingkat tinggi (vascular plant), 27 jenis lumut daun (bryophyta), 71 jenis lumut kerak (lichens), dan 24 jenis jamur (fungi) di Pulau Surtsey. Selain itu, terdapat juga 89 jenis burung serta 335 jenis invertebrata di Pulau ini.

Pulau Surtsey dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kebijakan dan Urusan Luar Negeri Islandia. Pada tingkat lokal, kawasan ini dikelola oleh Nature Reserve Officer. Pengawasan terhadap pengelolaan kawasan dilakukan oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Makanan melalui badan penasehat yang beranggotakan perwakilan dari enam pihak: Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Makanan, Perhimpunan Peneliti Surtsey, Institut Sejarah Alam Islandia, Institut Penelitian Kelautan, dan Pemerintah Lokal Vestmannaeyjar.

Pengaturan kunjungan merupakan isu utama dalam pengelolaan kawasan. Kunjungan ke Surtsey terbatas untuk penelitian dan pendokumentasian kawasan. Hal ini dilakukan guna meminimalisasi dampak manusia pada ekosistem pulau, menjaga proses kolonisasi flora-fauna, suksesi biotik, dan pembentukan formasi geologi berlangsung se-alami mungkin. Dengan demikian, tujuan utama perlindungan kawasan ini, yaitu sebagai laboratorium alami, dapat tercapai.

Setiap kunjungan akan didampingi oleh petugas untuk memastikan setiap pengunjung tidak membawa satu biji pun tanaman asing, dan juga memastikan pengunjung tidak meninggalkan apapun di pulau. Merupakan hal yang terlarang untuk mendarat di pantai, menyelam di sekitar pulau, memasukkan organisme hidup atau pun bagian-bagiannya, memasukkan mineral dan tanah ataupun meningggalkan kotoran di Pulau Surtsey. Diperlukan izin tertulis dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup untuk memasuki kawasan ini. Dari segi keamanan perjalanan laut, setiap pengunjung harus mendapat izin (clearence) dari otoritas yang berwenang berkaitan dengan kondisi cuaca kawasan. Tak mengherankan apabila sampai saat ini tercatat hanya ratusan orang yang pernah mengunjungi pulau ini.

Keterangan foto: View Puncak Pulau Surtsey dari Pantai. Photograph copyright© Sigurdur Thrainsson ( whc.unesco.org/en/documents/131199)

Keterangan foto: View Puncak Pulau Surtsey dari Pantai. Photograph copyright© Sigurdur Thrainsson ( whc.unesco.org/en/documents/131199)

Komitmen pengelola untuk menyuplai dunia dengan data dan ilmu pengetahuan mengenai proses perkembangan ekosistem kepulauan diwujudkan dengan melakukan kerja sama erat dengan komunitas peneliti. Telah terbentuk Perhimpunan Peneliti Surtsey (The Surtsey Research Society) selama 50 tahun. Dalam perjalanan setengah abadnya, para peneliti telah menerbitkan jurnal ilmiah mengenai Surtsey sebanyak hampir 500 judul.  Untuk mendukung kegiatan penelitian, terdapat fasilitas pondok peneliti dan landasan helikopter di dalam kawasan. Penelitian dilakukan dengan dukungan pendanaan dari kas pemerintah pusat dan sumbangan lainnya. Penulis sarankan untuk mengunjungi website untuk mengetahui lebih detil mengenai perhimpunan peneliti ini: http://www.surtsey.is/index_eng.htm

Kawasan ini bukan berarti tanpa ancaman. Ancaman kelestarian kawasan datang dari kegiatan pengambilan ikan dan biota laut lainnya di perairan sekitar kawasan. Namun, proses pengambilan ikan pada umumnya menggunakan alat tangkap jaring (gill net) sehingga dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan bagi perubahan ekosistem perairan sekitar kawasan.

Penulis akan menutup artikel ini dengan beberapa point refleksi, kontemplasi bagi pengelolaan Cagar Alam Krakatau. Sama halnya dengan Surtsey, alasan utama perlindungan Kepulauan Krakatau adalah untuk menjaga kealamian proses-proses ekologis yang berlangsung. Pembatasan ketat kegiatan manusia telah, sedang dan akan terus dilangsungkan di Surtsey, bagaimana dengan kita di Krakatau?

Surtsey juga memiliki daya pikat kuat bagi wisatawan, begitu juga Krakatau. Pemerintah lokal Vestmannaeyjar memiliki ketertarikan untuk menjadikan kawasan ini objek daya tarik wisata. Namun, berupaya untuk konsisten dengan tujuan perlindungan kawasan untuk menjaga kealamian proses-proses ekologis, otoritas pengelola Surtsey tidak mengijinkan pendaratan wisata di Surtsey dan hanya mengijinkan tur mengelilingi pulau menggunakan perahu (boat tours)  dan dari udara (aerial sightseeing). Tur dengan perahu dibanderol dengan harga IRK 16,500 (Krona Islandia) atau sekitar Rp. 1.872.179 (Kurs per 12 Oktober 2016) per orang per trip (lihat http://visitwestmanislands.com/). Bagaimana dengan krakatau?

Mengingat tujuan utama perlindungan kawasan adalah menjadikan Surtsey sebagai laboratorium ekologi alami, otoritas pengelola bekerja sama sangat erat dengan komunitas peneliti untuk melakukan pemantauan berkala tiap tahun. Dan Krakatau? The Krakatau Research Society?

Artikel ini bersumber utama dari website The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dengan alamat http://whc.unesco.org/en/list/1267/. Penulis juga merekomendasikan pembaca untuk menyaksikan video singkat mengenai Surtsey di tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=a0ZnlfDkErM.

 

*** M. Hilman T Sukma


Tinggalkan komentar

Dibalik Nama Besar – Krakatau Menyimpan Misteri

IMG_3570

Gunung Anak Krakatau

Tahun 1883 mengingatkan kembali tragedi letusan gunung krakatau yang menggemparkan dunia. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Hingga 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, sejauh 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya.

Saat inipun gunung krakatau sedang berproses untuk tumbuh dan menjelma menjadi anak krakatau. Setelah melewati masa istirahat kedua, mulai 1884 sampai Desember 1927, pada 29 Desember 1927 terjadi letusan bawah laut. Letusan tersebut menyemburkan air laut di pusat Kompleks Gunung Api Krakatau, menyerupai air mancur yang terjadi terus menerus sampai 15 Januari 1929 (Stehn, 1929 dalam Sutawidjaja, 2006). Stehn adalah seorang ahli gunung api yang memperhatikan bahwa pada 20 Januari 1929 muncul di permukaan tumpukan material di samping tiang asap yang membentuk satu pulau kecil, yang kemudian dikenal sebagai kelahiran Gunung Api Anak Krakatau.

Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau yang terletak di pusat Kawasan Krakatau, tumbuh dari kedalaman laut 180 meter, dan muncul di permukaan laut pada tahun 1929. Sejak lahirnya, Gunung Api Anak Krakatau tumbuh cukup cepat akibat seringnya terjadi letusan hampir setiap tahun. Masa istirahat kegiatan letusannya berkisar antara 1 sampai 8 tahun dan rata-rata terjadi letusan 4 tahun sekali. Secara umum pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau ini rata-rata 4 meter per tahun (Sutawidjaja,1997 dalam Sutawidjaja, 2006).

Secara geologis Gunung Anak Krakatau sekarang merupakan suatu bentuk aktivitas tektonik dan vulkanik yang dinamis yaitu adanya pergerakan lempengan litosfera antara Lempengan Benua dan Lempengan Samudera Hindia yang terus bergerak ke arah pulau Jawa (dengan kecepatan 7 – 10 cm/tahun) dan aktivitas magma chamber.  Aktivitas Krakatau ini mempengarui iklim disekitarnya yang secara langsung dapat mempengaruhi kondisi dan perkembangan biota (fauna dan flora) di kawasan Krakatau tersebut. Kondisi yang dinamis tersebut membuat ekosistem di kawasan Krakatau menjadi unik.  Kekayaan plasma nutfah flora dan fauna baik di daratan ataupun perairan yang ditunjang dengan nilai historis dan legendarisnya serta posisi geografisnya, membuat Krakatau menjadi laboratorium alam untuk mempelajari berbagai fenomena alam yang dimilikinya dengan memonitoring gejala alam dan suksesi alami berbagai ekosistemnya.

Peta Kawasan CA & CAL Krakatau A3

Peta CA dan CAL Kepulauan Krakatau

Krakatau telah ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak tahun 1919 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 83 Stbl.392 Tanggal 11 Juli 1919 jo Nomor 7 Stbl 392 Tanggal 5 Januari 1925.  Berdasarkan SK tersebut Cagar Alam Krakatau mempunyai luas 2.405,10 Ha yang meliputi pulau Krakatau Besar (Rakata), Pulau Krakatau Kecil (Panjang) dan Pulau Sertung.

Tahun 1990, secara khusus Cagar Alam Kepulauan Krakatau, yang selama ini berdasarkan ketentuan Pemerintahan Belanda, direvisi dan ditetapkan oleh Menteri Kehutanan RI sebagai Cagar Alam (CA) dan Cagar Alam Laut (CAL)  Kepulauan Krakatau  dengan luas 13.735 hektar (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 85/Kpts/II/1990 tanggal 28 Pebruari 1990).

Keunikan krakatau menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk mengunjungi kawasan krakatau. Namun secara normatif tidaklah diperbolehkan untuk kegiatan wisata. Sesuai dengan status kawasannya, krakatau masuk kedalam cagar alam yang pengertiannya adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yag perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (1) UU No. 5 th 1990 tentang KSDAH&E bahwa di dalam kawasan cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya dan pada Pasal 19 (1) terdapat ketentuan bahwa setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.

Selain tidak diperbolehkan secara aturan hukum, secara keamanan dan keselamatan krakatau bukanlah tempat yang aman untuk melakukan kunjungan wisata. Secara alami, kawasan ini masih tergolong kawasan gunung berapi yang masih aktif. Aktivitas tektonik dan vulkanik Gunung Anak Krakatau sering terjadi dan tidak dapat diprediksi sehingga bisa saja meletus sewaktu-waktu yang sangat membahayakan keselamatan pengunjung.

“Sejarah telah mencatat perjalanan krakatau hingga saat ini masih berdiri tegak dengan misteri yang tersimpan. Akankah letusan tahun 1883 terulang kembali, dan bisa saja meletus disaat yang tak terduga. Mungkin saat ini anak krakatau masih beristirahat, oleh karena itu jangan sampai terganggu dan terbangun dari tidurnya. Tak terbayang jika kemarahannya diungkapkan dengan mengeluarkan semua isi perutnya berupa letusan gunung berapi seperti halnya tragedi 1883”

 Referensi:

Sutawidjaja, I.S., 1997. The activities of Anak Krakatau volcano during the years of 1992-1996. The Disaster Prevention Research Institute Annuals, No. 40IDNDRS, I, Kyoto University, Japan.

Stehn, CH. E., 1929. The geology and volcanism of the Krakatau Group. 4 th Pan-Pacifi c Science Congress Java,1929. Part I. 1-55.

Sutawidjaja, I.S., 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau setelah letusan katastrofis 1883. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 September 2006: 143-153.

 

*** A.Basyir Firdaus


Tinggalkan komentar

Harimau Sumatera, Dimanakah Engkau Berada..

DSC_5620Sejak tahun 2013 Balai KSDA Lampung selalu melakukan kegiatan inventarisasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan menggunakan kamera/video trap di Kawasan Hutan Lindung Register 39 Batutegi Kabupaten Tanggamus. Tahun 2013 dan 2014 Kamera berhasil menangkap sosok satwa dari keluarga Felidae tersebut. Tapi pada tahun 2015, si belang tak lagi tertangkap jepretan kamera Bushnell Balai KSDA Lampung. Harimau Sumatera, dimanakah engkau berada…??

Pertanyaan itu menggelayuti 20 orang yang tergabung dalam Tim Inventarisasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Kawasan Hutan Lindung Register 39 Batutegi. Setidaknya telah 3 bulan tim ini bekerja sejak Oktober hingga Desember 2015, dengan memasang kurang lebih 23 kamera/video trap di tiga lokasi yaitu Way Rilau, Air Jernih dan Talang Ajir.

Lokasi pemasangan kamera/video trap tahun 2015 adalah lokasi pada tahun 2013 dan 2014 ditemukan jenis Harimau Sumatera ditambah beberapa titik lokasi baru untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan si belang melintas ketempat tersebut.

Dari analisa kamera/video trap, diperoleh hasil yang kurang memuaskan, karena Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) tidak terekam oleh kamera/video trap. Namun beberapa satwa mangsa berhasil terekam diantaranya adalah Kijang (Muntiacus muntjak), Monyet Ekor Panjang  (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrina),  Babi Hutan (Sus scrofa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Macan Dahan (Neofelis nebulusa), Napu (Tragulus napu), Kucing Hutan (Felis bengalensis), Kucing Emas (Felis temmincki), Musang Luwak (paradoxurus hermaproditus), Bajing Tanah Bergaris (Lariscus hosei), Biawak (Varanus salvator), Ayam Hutan (Gallus gallus), Kuau (Argusianus Argus), Trenggiling (Manis javanica), Tikus Hutan (Ratus ratus), Burung Trucuk (Pycnonotus goiavier), dan Burung Peregam (Ducula whartoni).

mangsa

Inventarisasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kawasan Hutan Lindung Register 39 Batutegi akan terus dilakukan setiap tahunnya untuk mengetahui keberadaan dan populasi satwa liar yang dilindungi yang masuk dalam satwa yang terancam punah tersebut di satu-satunya kawasan hutan lindung yang masih memiliki kondisi hutan yang cukup baik di Provinsi Lampung.

Semoga saja si belang tidak hilang, mungkin si belang sedang bersembunyi merias dirinya untuk siap-siap berselfie ria di kamera trap kami tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

 

***Syarif


Tinggalkan komentar

Mengenal Lebih Dekat Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa

jabfung PBJ 1Sebagaimana yang diamanatkan dalam Perpres No 54/2010 & Perpres No.70/2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pemerintah, maka untuk melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi pada unit organisasi pemerintah harus bersifat permanen. Oleh karena itu perlu dibentuk Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang ada di pusat maupun daerah. ULP dapat berdiri sendiri atau melekat pada unit yang sudah ada.

Tujuan pembentukan ULP :

  1. Menjamin pelaksanaan PBJ lebih terintegrasi/ terpadu, efektif, dan efisien
  2. Menjamin adanya standarisasi harga untuk barang/ jasa dalam penyusunan Harga Perkiraan Sendiri.
  3. Menjamin adanya standarisasi Dokumen Pengadaan
  4. Menjamin pelaksanaan PBJ dilakukan oleh organisasi dan aparatur profesional
  5. Menjamin persamaan pelayanan bagi penyedia barang/ jasa; dan
  6. Memudahkan pembinaan SDM Pengadaan melalui pembentukan Jabatan Fungsional Pengelola PBJ Pemerintah.

Untuk menjalankan ULP diperlukan tenaga Jabatan Fungsional (Jabfung) Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa (PBJ) sebagai anggota Kelompok Kerja (Pokja). Jabfung Pengelola PBJ Pemerintah adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melakukan kegiatan pengadaan barang/ jasa Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jabatan ini merupakan jabatan karier. Tujuan pembentukannya adalah dalam rangka pembinaan dan pengembangan karier tenaga profesional yang melaksanakan fungsi pengadaan barang/ jasa pemerintah, sehingga tercapai tujuan pelaksanaan pengadaan barang/ jasa yang efektif, efisien, terbuka, bersaing, transparan, tidak diskriminatif, dan akuntabel.

Pembentukan Jabfung PBJ berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 77 Tahun 2012 tentang Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa dan Angka Kreditnya, ditindaklanjuti dengan Peraturan Bersama Kepala LKPP dan Kepala BKN Nomor 1 Tahun 2013 dan Nomor 14 tahun 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 77 Tahun 2012 tentang Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa dan Angka Kreditnya.

Hingga bulan Oktober 2013 jumlah pemegang Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah yang tersebar di seluruh K/L/D/I berjumlah 207.162 orang (http://www.lkpp.go.id). Dari jumlah tersebut hanya sekitar 70.000 s.d 95.000 orang yang bertugas di bidang pengadaan barang/ jasa pemerintah dan perlu disesuaikan/ di-inpassing ke dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa. Oleh karena itu, untuk menjamin kelancaran, kesamaan persepsi, dan ketertiban administrasi dalam pelaksanaan penyesuaian (inpassing) tersebut, maka Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai Instansi Pembina memandang perlu menetapkan Petunjuk Teknis Pengangkatan Dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa Melalui Mekanisme Penyesuaian (inpassing). Maka diterbitkanlah Peraturan Kepala LKPP No. 15 Tahun 2013 tentang Petunjuk Teknis Pengangkatan Dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa Melalui Mekanisme Penyesuaian (inpassing). LKPP menetapkan periode efektif penyesuaian (inpassing) Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa terhitung sejak 1 Januari 2014 dan seluruh PNS yang di-inpassing sudah harus diangkat sebagai Pejabat Fungsional Pengelola PBJ selambat-lambatnya pada 31 Desember 2014.

Tabel 1. Pangkat/Jabatan/Angka Kredit Jabatan Fungsional Pengelola PBJ

Jenjang Jabatan

Pangkat

Golongan/Ruang

Angka Kredit

Pertama Penata Muda

IIIa

100

  Penata Muda Tk. I

IIIb

150

Muda Penata

IIIc

200

  Penata Tk.I

IIId

300

Madya Pembina

IVa

400

  Pembina Tingkat I

IVb

550

  Pembina Utana Muda

IVc

700

Persyaratan Pengangkatan Pertama kali:

  1. Berijazah paling rendah Sarjana Strata Satu (S1) / Diploma IV sesuai kualifikasi yang ditetapkan oleh Kepala LKPP;
  2. Pangkat paling rendah Penata Muda, gol. ruang III/a;
  3. Memiliki sertifikat ahli pengadaan nasional tingkat pertama;
  4. Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3), paling rendah bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.

Persyaratan Penyesuaian/ Inpassing  :

1.  Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 77 Tahun 2012, Peraturan Bersama Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013 dan Nomor 14 Tahun 2013 serta ketentuan pada bagian III, maka Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dapat disesuaikan/di-inpassing ke dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa adalah PNS yang memenuhi ketentuan:

a.  Berijazah paling rendah Sarjana Strata Satu (S1)/ Diploma IV.

b.  Pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a;

c.  Memiliki pengalaman 1 (satu) tahun di bidang pengadaan barang/ jasa pemerintah pada periode tahun 2011, 2012 atau 2013 sebagai salah satu Pejabat dibawah ini:

1) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK);

2) Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP);

3) Panitia Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;

4) Pejabat Pengadaan;

5) Pejabat/Panitia Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP)

d.  Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) atau Penilaian Prestasi Kerja, paling sedikit bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir; dan

e.  memiliki sertifikat ahli pengadaan nasional tingkat pertama.

2.  Selain ketentuan pada angka 1 di atas, PNS yang dapat disesuaikan/ di-inpassing dan diangkat ke dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa juga harus memenuhi ketentuan:

a.  Tidak sedang menjalani/ dijatuhi hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dengan tingkat hukuman disiplin sedang atau berat pada masa penyesuaian (inpassing) (1 Januari 2014 sampai dengan 31 Desember 2014)

b.  Tidak sedang menjalankan tugas belajar lebih dari 6 bulan pada masa penyesuaian (inpassing) (1 Januari 2014 sampai dengan 31 Desember 2014); da

c.  Tidak sedang menjalani cuti diluar tanggungan negara pada masa penyesuaian (inpassing) (1 Januari 2014 sampai dengan 31 Desember 2014).

3.  Bagi PNS yang bertugas sebagai salah satu Pejabat sebagaimana dinyatakan pada angka 1 huruf c pada periode tahun 2011, 2012 atau 2013, namun belum memenuhi ketentuan:

a.  berijazah paling rendah Sarjana Strata Satu (S1)/ Diploma IV; dan/ atau

b.  pangkat paling rendah Penata Muda, golongan ruang III/a, maka PNS yang bersangkutan dapat diproses untuk penyesuaian (inpassing) jika pada periode penyesuaian (inpassing) kedua ketentuan tersebut telah terpenuhi.

4.  Pasal 43 ayat (2) Peraturan Bersama Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013 dan Nomor 14 Tahun 2013, menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang dalam masa penyesuaian (inpassing) telah dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya, maka sebelum disesuaikan/ di-inpassing dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa terlebih dahulu dipertimbangkan kenaikan pangkatnya agar dalam penyesuaian (inpassing) telah mempergunakan pangkat terakhir.

5.  Pasal 43 ayat (3) Peraturan Bersama Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013 dan Nomor 14 Tahun 2013, menyatakan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang telah disesuaikan/ di-inpassing dalam Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa untuk kenaikan jabatan/ pangkat setingkat lebih tinggi harus menggunakan angka kredit yang ditentukan, serta memenuhi syarat lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

6.  LKPP sebagai instansi pembina jabatan fungsional Pengelola Pengadaan Barang/ Jasa melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyesuaian (inpassing) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Tenaga Fungsional Pengelola PBJ untuk Propinsi Lampung terdiri dari 6 orang, yaitu :

  • Ili Suwandi, S.P. (BPPHP Wilayah VI Lampung)
  • Andri, S.H. (BPKH XX Lampung Bengkulu)
  • Budi Haryono, S.P. (BKSDA Lampung)
  • Yulizar Ari Putra, S.H. (BKSDA Lampung)
  • Deddy Rusman, S.Hut. (Balai Besar TNBBS)
  • Honoris, S.Hut. (Balai Besar TNBBS)

Diharapkan agar para tenaga Fungsional PBJ dapat lebih profesional dalam melaksanakan tugas demi terwujudnya pelaksanaan pengadaan barang/ jasa yang efektif, efisien, terbuka, bersaing, transparan, tidak diskriminatif, dan akuntabel.

***Budi Haryono, S.P.


Tinggalkan komentar

Intervensi Dalam Pembinaan Organisasi

banner-organization-development-and-change-managementSetiap organisasi tentunya ingin mencapai kesuksesan dalam pencapaian tujuannya.  Namun dalam menjalankan tugasnya, seringkali sebuah organisasi dihadapkan dengan begitu banyak permasalahan yang menghalangi pencapaian tujuan organisasi.  Permasalahan-permasalahan tersebut terkadang begitu kompleks dan sulit untuk diatasi.  Untuk itu, dalam pembinaan/pengembangan organisasi (organizational development), diperlukan upaya konkret untuk mengatasi  masalah organisasi yang dimulai dari men-diagnosis “penyakit” organisasi sampai dengan melakukan intervensi .  Dalam tulisan ini, penulis berupaya melakukan analisis singkat mengenai permasalahan organisasi khususnya organisasi pemerintah, kemudian mencoba memberikan solusi intervensi yang dirasakan tepat untuk mengatasinya.

Dalam tulisan ini penulis mendiagnosa permasalahan organisasi yang berkaitan dengan sumber daya manusia.  Penulis beranggapan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan sumber daya manusia merupakan permasalahan yang sangat penting mengingat sumber daya manusia merupakan motor dalam operasionalisasi seluruh kegiatan organisasi.  Dari berbagai permasalahan yang terkait sumber daya manusia, penulis hanya mengangkat 2 (dua) permasalah yang umumnya dialami organisasi pemerintah, yaitu :

1. Rendahnya tingkat kedisiplinan pegawai.

Hal ini ditunjukan dengan banyaknya pegawai yang tidak hadir ataupun hadir namun tidak tepat waktu.  Hal ini menyebabkan banyak tugas dan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan tepat waktu, terutama menyangkut fungsi-fungsi pelayanan publik.

2.  Banyaknya pegawai yang bekerja tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.

Di berbagai organisasi pemerintah, masih banyak pegawai yang mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.  Hal ini menciptakan sebuah ketidakpastian pekerjaan di lingkup organisasi.

Dari hasi diagnosis permasalahan tersebut, maka penulis mengajukan beberapa jenis intervensi yang dapat dilakukan.  Intervensi tersebut adalah :

1. Masalah kedisiplinan pegawai.

Pemecahan masalah kedisiplinan pegawai dapat dipecahkan dengan intervensi berbasis tujuan perubahan, yaitu pada isu/permasalahan organisasi (organizational issue).  Isu kedisiplinan pegawai termasuk dalam kategori isu sumber daya manusia (Human resources Issue), sehingga jenis intervensi yang dilakukan adalah dengan human resources intervention.  Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam intervensi ini antara lain perencanaan karir, system rewards, penetapan tujuan organisasi, dan pengukuran/penilaian kinerja.  Adapun bentuk-bentuk human resources intervention yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan :

a.  Perumusan Tujuan Organisasi

Harus dilakukan perumusan secara jelas tentang tujuan organisasi.  Dalam kegiatan ini, dilakukan pertemuan rutin antara pimpinan organisasi dan pimpinan-pimpinan bidang-bidang tertentu dalam organisasi untuk merumuskan tujuan organisasi secara jelas.  Selanjutnya tujuan organisasi yang telah jelas tersebut diumumkan dan diberitahukan kepada seluruh pegawai, sehingga seluruh pegawai mengetahui tujuan organisasi secara jelas.

b.  Pengukuran Kinerja

Dilakukan pengukuran kinerja terhadap semua pegawai yang meliputi berbagai unsur termasuk unsur kedisiplinan yang menyangkut kehadiran, kecepatan dan ketepatan menjalankan tugas, output kegiatan/pekerjaan dan lain sebagainya.  Pengukuran kinerja ini akan menjadi dasar dalam reward dan punishment yang akan dikenakan kepada pegawai. Pengukuran kinerja juga menjadi suatu elemen penghubung antara tujuan organisasi dan system reward and punishment

c.  Sistem Rewards and Punishment

Setelah dilakukan penilaian kinerja yang meliputi berbagai aspek termasuk kedisiplinan maka diterapkan System Rewards and Punishment.  Bagi yang memiliki kinerja baik dan memuaskan maka diberikan rewards, sebaiknya bagi yang kinerjanya buruk maka dikenakan punishment yang setimpal pula.  Sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan tingkat kepuasan karyawan.

2.  Masalah ketidakpastian pekerjaan.

Pemecahan masalah ketidakpastian pekerjaan di dalam sebuah organisasi juga dapat dipecahkan dengan intervensi berbasis tujuan perubahan, yaitu pada isu/ permasalahan organisasi (organizational issue).  Isu ketidakpastian pekerjaan  termasuk dalam kategori isu teknologi dan struktur atau technostruktural issue, dan intervensinya disebut technostruktural intervention.  Disebut technostruktural intervention karena terkait dengan design organisasi, karyawan/pegawai, dan design kerja. Pendekatan intervensi ini adalah pada keterlibatan karyawan, metode-metode design organisasi, kelompok, dan jenis pekerjaan. Adapun bentuk-bentuk technostruktural intervention yang dapat dilakukan antara lain adalah :

a.  Design struktur organisasi.

Intervensi dilakukan dengan mendesain kembali struktur organisasi dikaitkan dengan tugas-tugas tiap elemen organisasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari overlap dalam pelaksanaan pekerjaan, dan membuat seluruh pegawai dapat berfungsi sesuai dengan job descriptionnya masing-masing. Struktur organisasi yang efektif dapat menentukan efektifitas pencapaian tujuan organisasi yang merupakan tujuan dari adanya pengembangan organisasi (organizational development).

b.  Perampingan organisasi.

Perampingan organisasi adalah intervensi yang berkaitan dengan pengurangan elemen-elemen/struktur yang dianggap tidak diperlukan/pemborosan. Banyaknya pegawai yang tidak bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya dapat juga disebabkan terlalu “gemuk’ nya sebuah struktur organisasi, sehingga banyak pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan oleh sedikit orang namun dikerjakan oleh banyak orang yang malah menimbulkan ketidakefektifan dalam pelaksanaan pekerjaan.  Perampingan termasuk intervensi yang cukup beresiko akan adanya resistensi dari anggota organisasi atau pegawai, namun harus dilakukan bila sangat diperlukan.  Untuk organisasi pemerintah,  perampingan dapat dilakukan dengan memutasi pegawai yang dianggap tidak efektif.   Sebagai catatan bahwa kegiatan perampingan organisasi harus dilakukan dengan pertimbangan strategi organisasi.

c.  Reengineering

Reengineering adalah salah satu bentuk intervensi yang radikal dalam pengembangan organisasi yaitu dengan merubah bentuk organisasi.  Langkah ini adalah langkah terakhir apabila dianggap permasalahan organisasi sudah tidak dapat dipecahkan dengan pendekatan-pendekatan lain.

Demikianlah analisa singkat penulis mengenai permasalahan dan bentuk intervensi yang dapat dilakukan dalam pembinaan/pengembangan organisasi (organizational development).  Bentuk-bentuk intervensi yang penulis ajukan merupakan bentuk-bentuk intervensi yang merujuk pada pendapat Thomas G Cummings dan Christopher G. Worley dalam buku karangan mereka yang berjudul “Organization Development and Change”.

 

***Indra Dirhamsyah, S.P., M.Si.


Tinggalkan komentar

Suoh : “Wisata Vulkanik Nan Eksotik“

BENQ DC C1420

BENQ DC C1420

Dari kejauhan tampaklah empat buah danau yang jaraknya saling berdekatan, dengan satu buah danau berukuran lebih besar, satu lagi berukuran sedang dan dua  lainnya berukuran kecil. Di sekitar danau-danau tersebut terlihat kepulan-kepulan asap putih yang menambah keelokan  danau. Danau tersebut biasa disebut Danau Souh karena letaknya berada di daerah Suoh.

Suoh merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Barat yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Danau Suoh memang sangat unik karena selain indah, danau tersebut juga dikelilingi gejala alam panas bumi yang mengeluarkan kepulan asap putih yang tebal seperti awan di langit nan biru.

Wilayah Suoh, nampak seperti cekungan mangkuk bila dilihat dari daerah yang lebih tinggi, seperti dari daerah Sekincau. Dahulu daerah ini merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Lantaran ada masyarakat sebelum ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa, Suoh kemudian menjadi enclave kawasan taman nasional.

Dahulu, menurut masyarakat di wilayah ini pernah ada sebuah kerajaan kecil yang disebut Kerajaan Bumi Hantatai. Kerajaan tersebut merupakan bagian dari Kerajaan Skala Brak Lampung Barat, tetapi karena terjadi gempa yang dibarengi meletusnya Gunung Suoh pada tahun 1933, kerajaan tersebut luluh lantak, dan masyarakatnya banyak yang mengungsi dan menyelamatkan diri ke wilayah lain yang lebih aman, seperti Wonosobo –Tanggamus dan Batu Brak – Lampung Barat.

Akibat kejadian gempa yang dibarengi meletusnya gunung berapi, di wilayah tersebut kemudian terbentuk empat buah danau yang sangat indah, yang kemudian oleh masyarakat diberi nama masing-masing yaitu Danau Asam, Danau Lebar, Danau Minyak dan Danau Belibis.

Danau-danau tersebut, berdasarakan zonasi kawasan berada di zona pemanfaatan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang secara administratif berada di Desa Sukamarga Kecamatan Suoh  Kabupaten Lampung Barat.

Penasaran dengan penamaan danau-danau tersebut, sayapun mulai mencari informasi dari masyarakat setempat tentang penamaan danau tersebut. Kebetulan yang biasa mengantar para peneliti dan wisatawan ke Danau Souh dan sekitarnya adalah Kang Jaja, yang tak lain merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

“Kenapa ini disebut Danau Asam?” tanyaku pada Kang Jaja yang pagi itu menemaniku berkeliling di sekitar danau.

“Danau itu disebut Danau Asam karena airnya terasa keasaman. Kalau yang itu disebut Danau Minyak karena dari jauh tampak seperti ada minyak yang mengambang” ucap Kang Jaja memberi penjelasan

Karena penasaran, kemudian saya coba mengambil sedikit air yang ada di bibir danau dan mencicipnya. Ternyata benar apa yang diucapkan Kang Jaja, air danau ini terasa agak asam sehingga danau ini diberi nama Danau Asam.

Di sekitar Danau Asam, pagi itu kami lihat ada sekumpulan ibu-ibu yang sedang mencuci baju dan anak-anaknya sedang mandi di pinggiran danau. Dari empat danau yang ada,” menurut Kang Jaja hanya Danau Asam saja yang biasa dimanfaatkan masyarakat untuk mandi, dan mencuci pakaian serta alat rumah tangga.

Dari Danau Asam, kami melanjutkan perjalanan untuk melihat danau lainnya. Dalam perjalanan dari  danau satu ke danau lainya, kita akan banyak menemui titik panas bumi, baik dalam bentuk kepulan asap maupun semburan lumpur dalam skala kecil.

Berdasarkan hasil pengukuran dari Tim Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah saya dampingi pada tahun 2012, bahwa sumber panas yang ada di sekitar Danau Souh baik dalam bentuk air maupun lumpur, memiliki suhu sekitar 70-90 derajat, bahkan ada yang lebih dari 100 derajat bila dalam bentuk semburan lumpur. Oleh karena itu kita harus berhati –hati bila berkunjung ke wilayah tersebut, dan ada baiknya mintalah pemandu dari petugas setempat.

“Terus kalau yang itu danau apa kang” tanyaku kemudian

“Danau itu biasa disebut Danau Belibis, disebut demikian karena seringnya Burung Belibis yang bermain di danau ini terutama pada pagi dan sore hari” Ucap Kang Jaja memberi penjelasan

“Kalau yang itu namanya Danau Lebar” lanjut kang Jaja sambil menunjuk ke sebuah danau yang ukurannya lebih besar dari Danau Minyak dan Danau Belibis, tapi lebih kecil dari Danau Asam.

Setelah berkeliling menikmati keindahan Danau Souh, menurutku Danau Suoh tidak kalah menakjubkan dengan potensi wisata alam yang sangat terkenal seperti Objek Wisata Situ Patenggang di Jawa Barat. Tapi karena buruknya kondisi jalan menuju suoh, banyak orang yang tidak mengetahui keindahan Wisata Alam Danau Suoh nan eksotik.

Tetapi bagi anda yang hobi berpetualang, perjalanan ke sana sangat mengasyikan dan dapat memacu adrenalin. Hal ini karena sepanjang 30-40 km perjalanan dari simpang Suoh-Sukabumi menuju Suoh, anda akan disugihi jalanan tanah yang licin, berlubang, dan sesekali bertemu jalanan terjal dengan jurang di kiri kanannya. Tapi jangan kawatir, untuk jalan yang kondisinya sangat ekstrim, banyak yang sudah dibeton oleh Pemda Kabupaten Lampun Barat.

Bagi anda yang membawa mobil double gardan, medan ke suoh sangat cocok sekali karena medannya pasti sangat menyenangkan. Sedangkan untuk kendaraan roda dua, apabila dalam kondisi hujan, disarankan untuk menggunakan rantai pada ban motor anda karena kondisi jalan sangat licin.

Sebelum anda menikmati indahnya pemandangan Danau Suoh, setelah sampai di daerah suoh sebaiknya anda mampir terlebih dahulu ke Kantor Resort Suoh (Resort Suoh merupakan salah satu unit terkecil pengelolaan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ).

Di Kantor Resort tersebut anda bisa mendapatkan informasi terkait wisata alam yang berada di wilayah kerja Resort Suoh. Dan anda juga akan dibantu untuk mendapatkan pemandu yang dapat menemani anda untuk menikmati potensi wisata alam Suoh.

Selain menikmati keindahan panorama alam Danau Suoh, hal-hal lain yang dapat anda lakukan selama berada di Danau Suoh antara lain :

1. Memancing

Selain memberikan pemandangan nan indah, di danau tersebut juga terdapat berbagai jenis ikan seperti, gabus, nila, betok, udang dan kepor yang hidup secara alami. Di Danau Lebar paling banyak terdapat ikannya sehingga banyak masyarakat yang sering mancing di danau tersebut.

2.  Bersampan

Bagi anda yang ingin melihat lebih dekat keindahan danau tersebut, anda juga bisa bersampan mengililingi danau-danau tersebut. Tapi perlu diketahui, sampan yang terdapat di sana merupakan sampan sederhana milik masyarakat yang terbuat dari kayu.

Dulu TNBBS memiliki speedboat, tapi karena tidak terawat, saat ini kondisinya rusak. Kalau anda ingin menikmati keindahan danau dengan bersampan, datanglah pada saat hari libur besar, seperti tahun baru dan  lebaran.

Selain hari libur tersebut sampan tidak beroperasi, tapi apabila anda ingin mencarter sampan, mungkin bisa dinegosiasikan dengan si pemilik sampan.

3. Berenang

Setelah lelah berkeliling, anda mungkin bisa berelaksasi sebentar dengan berenang dipingggiran danau asam. Dari empat danau yang ada, Danau Asam lah yang biasanya digunakan masyarakat untuk mandi dan mencuci. Walaupun airnya agak sedikit asam, tapi tenang, tidak berbahaya untuk kulit, karena PHnya masih normal.

4. Pengamatan Burung

Pagi dan sore hari merupakan waktu yang tepat bagi anda para pecinta burung, karena pada pagi dan sore hari banyak jenis-jenis burung yang bermain di sekitar danau sehinga sangat menarik untuk diamati.

 

***Adhie Masturiatna, S.Hut